Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain ---- Harta akan habis digunakan tanpa ilmu, tapi sebaliknya ilmu akan berkembang jika digunakan dan dimanfaatkan

Selasa, 02 April 2013

Analisis Tawuran Antar Pelajar Sebagai Permasalahan Perkembangan Sosial Remaja Ditinjau Dari Teori Albert Bandura


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Tawuran sepertinya sudah menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia, sehingga jika mendengar kata tawuran, sepertinya masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi. Hampir setiap minggu, berita itu menghiasi media massa. Tawuran antar pelajar maupun tawuran antar remaja semakin menjadi semenjak terciptanya geng-geng. Perilaku anarki selalu dipertontonkan di tengah-tengah masyarakat. Mereka itu sudah tidak merasa bahwa perbuatan itu sangat tidak terpuji dan bisa mengganggu ketenangan masyarakat.Sebaliknya mereka merasa bangga jika masyarakat itu takut dengan geng kelompoknya. Seorang pelajar seharusnya tidak melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti itu. Biasanya permusuhan antar sekolah dimulai dari masalah yang sangat sepele. Namun remaja yang masih labil tingkat emosinya justru menanggapinya sebagai sebuah tantangan.
Tawuran antar pelajar merupakan fenomena sosial yang sudah dianggap lumrah oleh masyarakat di Indonesia. Bahkan ada sebuah pendapat yang menganggap bahwa tawuran merupakan salah satu kegiatan rutin dari pelajar yang menginjak usia remaja. Masih teringat ditelinga kita  peristiwa tawuran antar pelajar SMA Negeri 6 dan SMA Negeri 70. Peristiwa tawuran antar-pelajar dua sekolah tersebut, Senin (24/9/2012), telah merenggut nyawa seorang siswa SMA Negeri 6. Alawy Yusianto Putra (15), siswa kelas X SMA Negeri 6, tewas setelah terkena sabetan celurit dari siswa SMA Negeri 70. Saat itu, Alawy dan teman-temannya tengah berkumpul seusai sekolah dan mendadak diserang oleh segerombolan siswa SMA Negeri 70 yang membawa senjata tajam (Kompas.com,  edisi Rabu, 26 September 2012).
Hal yang serupa terjadi pada pelajar sekolah menengah di Yogyakarta. Para pelajar di sebuah sekolah telah dapat membedakan mana sekolah yang menjadi ‘kawan’ serta mana pula yang menjadi ‘lawan’. Hal ini telah diturunkan dari suatu angkatan ke angkatan di bawahnya.
Contoh di atas adalah hanya segelintir dari kejadaian tawuran anatar pelajar di negeri ini. Semestinya masa remaja dalah masa yang paliang prnting dalam rentang perkembangan manuisa. Bukan diisi dengan tawuran dan hal-hal negatif, yang tidak bermanfaat untuk masa depan. Masa remaja sering dikenal dengan istilah masa pemberontakan. Pada masa-masa ini, seorang anak yang baru mengalami pubertas seringkali menampilkan beragam gejolak emosi, menarik diri dari keluarga, serta mengalami banyak masalah, baik di rumah, sekolah, atau di lingkungan pertemanannya. Fenomena yang sanagt meprihatinkan selain tawuran dikalangan remaja, seperti sikap arogan dengan menjadikan termenologi “babe gue’ sebagai senjata, suka berhura-hura, chatting, bergerombol, memberontak orang tua, dan guru, malakukan penyimapanagn seksual (free sex, samen leven, married by accident), mengonsumsi miras dan narkoba.
Penyesuaian diri pada masa remaja sangat penting, karena masa remaja dalaha masa rentan dengan berbgai penagruh sosial yang positif atau negatif. Kalau pengaruh yang masuk adalah positif, amaka akan berdampak baik terhadap perkembangan kepribadian remaja. Tetapi sebaliknya jika pengaruh yang negatif terhdap remaja, maka akan berdampak negatif pula terhadap perkembangan kepribadain remaja.
Penyesuaian yang utama dari remaja dalah penyesuaian sosial, dimana remaja tinggal dan berhubungan baik dengan orang tua, teman sebaya, atau lingkungan skitar. Penyesuaian sosial merupakan salah satu tugasa perkembangan masa remaja yang paling sulit. Remaja dituntut menyesuaikan diri dengan lawan jenis dan orang dewasa diluar lingkungan keluarga dan sekolah.
Agar target sosialisasi remaja tercapai, berbagai bentuk penyesuaian baru harus ditempuh oleh remaja. Di antara bentuk penyesuain baru yang paling penting dan paling susah antara lain penyesuan diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, peruabahan dalam perilaku sosial, nilai-nilai yang baru dalam seleksi dalam persahabatan, nilai-nilai baru dalam dukungan dan penolakan sosial, dan nilai-nilai baru dalam seleksi pemimpin.

B.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat diambil rumusan maslah sebgai berikut:
1.        Apa pengertian remaja?
2.        Apa pengertian dari perkembanag sosial remaja?
3.        Bagaimana analisis tawuran pada remaja menurur teori Albert Bandura dan Erik H. Erikson?
4.        Bagaimana solusi yang dapat dilakukan dalam mencegah tawuran anatar pelajar?

C.      Tujuan
Dari hasil identifikasi rumusan msalah di atas, maka tujuan dari analisis permsalah sosial remaja adalah:
1.        Mendeskripsikan pengertian remaja.
2.        Mendeskripsikan perkembnagan sosial remaja.
3.        Analalisi permasalahan tawuran antar pelajar menurut teori Albert Bandura dan Erik H. Erikson.
4.        Solusi yang dapat dilakukan dalam mencegah tawuran antar pelajar.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Kajian Teori
1.        Remaja
Menurut Ali dan Asrori (2004:9) remaja yang dalam bahas aslinya disebut adolescence, berasal dari bahas Latin adolescere yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Bahasa primitif dan orang-orang purbakala memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode lain dalam rentang kehidupan. Anak sudah dianggap dewasa apabiala sudah mampu mengadakan reproduksi.
 Perkembangan lebih lanjut, istilah adolescence sesunguhnya memilki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosioanl, sosial, dan fisik (Hurlock, 1991 dalam Ali dan Asrosi, 2004:9). Pandangan ini didukung oleh Piaget (Hurlock, 1991 dalam Ali dan Asrosi, 2004:9) yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi ke masayrakat dewasa, suatu usia di mana anak tidaka merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar. Memasuki masayarakat dewasa ini mengandung banyak aspek afektif, lebih kurang dari usia pubertas.
Menurut Hurlock (1991) rentang masa usia remaja antara 13-21 tahun, yang juga dibagai dalam masa remaja awal, anatara uisa 13/14 samapai 17 tahun, dan masa remaja akhir 17 samapi 21 tahun.
Setiap periode penting selama rentang kehidupan mempunya ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya. Begitu juga dengan masa remaja ada ciri-ciri unum yang membedakannya dengan periode-periode yang lai. Meneurut Al-mighwar (2006:63) masa remaja mempunyai ciri-ciri umum, yaitu:
a.         Masa yang penting
Semua periode dalam rentang kehidupan memang penting, tetapi ada perbedaan dalam tingkat perbedaannya. Adanya akibat langsung terhadap sikap dan tingkah laku serta akibat-akibat jangka panjangnya menjadikan periode remaja lebih penting daripada periode yang lainnya.
b.        Masa transisi
Pada setiap periode transisi, tampak ketidakjelasan status individu dan munculnya keraguan terehdap peran terhadap peran yang harus dimainkan. Pada masa ini, remaja bukan lagi seorang anak dan bukan juga oranag dewasa.
c.         Masa perubahan
Selama masa remaja, tingkat perubahan sikap dan perilaku sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Perubahan yang terjadi pada masa remaja memang beragam, tetapi ada lima perubahan yang terjdi pada remaja:
1)        Emosi yang tinggi;
2)        Perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosila menimbulkan masalah baru;
3)        Perubahan nilai-nilai sebagi konsekuensi perubahan minat dan pola tingkah laku; dan
4)        Bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan.
d.        Masa bermasalah
Meskipun setiap periode memilki masalah sendiri, masalah masa remaja termasuk masalah yang sulit diatasi, baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan.
e.         Masa pencarian identitas
Banyak cara yang dilakukan oleh remaja untuk menunjukkan identitasnya, anatra lain penggunaan simbol-simbol status dalam bnetuk kendaraan, pakain, dan pemilikan barang-baramg lain yang mudah dilihat.
f.         Masa munculnya ketakutan
Kehidupan pada masa remaja muda cenderung tidak simpatik dan takut bertanggungjawab.
g.        Masa yang tidak realistik
Pandangan subjektif cenderung mewarnai remaja. Mereka mamandang diri sendiri dan orang lain berdasarkan keinginannya, dan bukan berdasar kenyataan yang sebenarnya, apalagi dalam cita-cita. Tidak hanya berakibat bagi dirinya sendiri, bahkan bagi keluaraga dan teman-temanya, cita-cita yang tidak realistik ini berakibat pada tingginya emosi yang merupakan ciri awal masa remaja. Semakin tidak realistik cita-citanya, semakin tinggi kemarahannya. Bila orang lain mengecewakannya atau kalau dia tidak berhasil mancapai tujuan yang ditetapkannya dia akan sakit dan kecewa.
h.        Masa menuju masa remaja
Saat usia kematangan kian dekat, para remaja merasa gelisah untuk meniggalkan streotipe usia belasan tahun yang indah di satu sisi, dan harus bersiap-siap menuju usia dewasa di sisi lainnya. Kegelisahan itu timbul akibat kebimbangan tentang bagaimana meninggalkan masa remaja dan bagaimana pula memasuki masa deawasa.

Semua individu, dalam rentang kehidupannya, memiliki tugas dan peran tersendiri. Begitu juga dengan masa remaja mempunyai tugas perkembangan yang tidak dapat terlewatkan. Semua tugas perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada penanggulangan sikap dan perilaku yang kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa, tugas perkembangan pada masa dewasa menuntut perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku anak, akibatnya, hanya sedikit anak lak-laki yang mampu dan hanya anak perempuanlah yang dapat diharapkan untuk menguasai tugas-tugas tersebut selama awal masa remaja, apa lagi mereka yang matangnya terlambat (http://www.psychologymania.com).
Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja Menurut Hurlock (1991) dalam Ali dan Asrori (2004:10)  adalah sebagai berikut:
a.         Berusaha mampu menerima keadaan fisiknya.
b.        Berusaha mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.
c.         Berusaha mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis.
d.        Berusaha mencapai kemandirian emosional.
e.         Berusaha mencapai kemandirian ekonomi.
f.         Berusaha mengembangkan konsep dan keterampilan-keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melukukan peran sebagai anggota masyarakat.
g.        Berusaha memahami dan mengintemalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua.
h.        Berusaha mengembangkan perilaku tanggungjawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa.
i.          Berusaha mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.
j.          Berusaha memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.


2.        Perkembangan Sosial Remaja
Perkembangan sosial pada masa remaja merupakan puncak dari perkembangan sosial dari fase-fase perkembangan. Bahkan, terkadang, perkembangan sosial remaja lebih mementingkan kehidupan sosialnya di luar dari pada ikatan sosialnya dalam keluarga. Perkembangan sosial remaja pada fase ini merupakan titik balik pusat perhatian. Lingkungan sosialnya sebagai perhatian utama.
Suatu penelitian longitudinal yang dilakukan oleh Bronson, menyimpulkan adanya tiga pola orientasi sosial remaja, yaitu: (http://www.psychologymania.com).
a.        Withdrawal vs. Expansive
Anak yang tergolong withdrawal adalah anak yang mempunyai kecenderungan menarik diri dalam kehidupan sosial, sehingga dia lebih senang hidup menyendiri. Sebaliknya anak expansive suka menjelajah, mudah ergaul dengan orang lain sehingga pergaulannya luas.
b.        Reaxtive vs aplacidity
Anak yang reactive pada umumnya memiliki kepekaan sosial yang tinggi sehingg mereka banyak kegiatan, sedangkan anak yang aplacidity mempunyai sifat acuh tak acuh bahkan tak peduli terhadap kegiatan sosial. Akibatnya mereka terisolir dalam pergaulan sosial.
c.         Passivity vs Dominant
Anak yang berorientasi passivity sebenarnya banyak mengikuti kegiatan sosial namun mereka cukup puas sebagai anggota kelompok saja, sebaliknya anak yang dominant mempunyai kecenderungan menguasai dan mempengaruhi teman-temannya sehingga memiliki motivasi yang tinggi untuk menjadi pemimpin (http://www.psychologymania.com)

Selain orientasi perkembangan sosial remaja, perkembangan sosial remaja juga mencepunyai ciri-ciri yang melekat pada diri remaja. Meneurut Ali dan Asrodi (2004:91) ciri-ciri perkembangan sosial remaja.
a.         Berkembanganya kesadaran dan kesunyian dan dorongan akan pergaulan
Masa remaja bisa disebut sebagai masa sosial karena sepanjang masa remaja, hubungan sosial remaja semakin tampak jelas dan sangat dominan. Kesadaran akan kesunyian menyebabkan remaja berusaha mencari kompensasi dengan mencari hubungan dengan orang lain atau berusaha mencarai pergaulan. Penghayatan kesadaran akan kesunyian yang mendalamdari remaja merupakan dorongan pergaulan untuk menemukan pernyataan diri akan kemampuan kemandiriannya.
b.        Adanya upaya memilih nilai-nilai sosial
Adanya dua kemungkinan yang ditempuh oleh remaja ketika berhadapan dengan nialai-nilai sosial tertentu, yaitu menyesuiakan diri dengan nilai-nilai tersebut atau tetap pada pendirian dengan segala akibatnya.
c.         Meningkatnaya ketertarikan pada lawan jenis
Remaja sangat sadar akan dirinya tentang bagaiman padangan lawan jenis mengenai dirinya. Meskipun kesadaran akan lawan jenis ini berhubungan dengan perkembangan jasmani, tetapi sesunguhnya yang berkembang secara dominan bukanlah kesadaran jasmani yang berlainan, melainkan tumbuhnya akan ketertarikan terhdap jenis kelamin yang lain.
d.        Mulai cenderung memilih karir tertentu
Karakteristik berikutnya sebagaimana dikatakan oleh Kuhlen bahwa ketika sudah memasuki masa remaja akhir, mulai tampak kecenderungan mereka untuk memilih karir tertentu meskipun dalam pemilihan karir tersebut masih mengalami kesulitan.

Remaja, terutama yang telah berada pada masa bagian akhir masa remaja (Late Adolescence) yaitu umur (17-21) tahun. Perhatiannya terhadap kedudukannya dalam masyrakat dan lingkungan terutama di lingkukngan remaja sangat besar. Ia ingin diterima oleh kawan-kawannya dan merasa sedih bila dikucilkan dari kelompok temennya. Karena itu ia meniru tingkah laku, pakaian, sikap dan tindakan tememnya dalam satu kelompok. Kadang-kadang remaja dihadapkan pada pilihan yang sangat berat, apakah ia mematuhi orang tuanya dan meninggalkan pergaulannya dengan teman-teman eratnya, ataukah hanyut dalam pergaulan yang menyenangkan dan meninggalkan orang tuanya. Tidak jarang pilihannya jatuh pada teman pergaulannya jika hubungan dengan orang tua kurang serasi Panuju dan Umami (1999:152).
Masa remaja adalah sebagai masa yang mempunyai minat dan keinginan yang sanagt tinggi terhdap sesuatu. Baik minat akan pakain, kendaraan, akan perhatian, dan lain sebagainya. Apabila minat dan keinginan tersebut tidak terpenuhi, maka akan terjadi perlawanan dari dirirnya sebagai bentuk pelampiasan dari tidak terpenuhi minat dan keinginan tersebut. Menurut Hurlock ( 1980:219) Minat-minat sosial yang umum  pada remaja
a.         Pesta
Minat terhadap pesata dengan teman-teman lawan jenis pertama kali tampak sekitar usia tiga belas sampai empat belas. Sepanjang masa remaja anak perempuan lebih menyukai pesta daripada anak laki-laki.
b.        Minum-minuman keras
Minuman keras pada saat pesta atau kencan semakin bertambah populer selama masa remaja. Remaja perempuan bersama temen-temen sejenis jarang minum minuman keras dibandingkan dengan remaja laki-laki.
c.         Obat-obatan terlarang
Meskipun tidak bersifat universal, penggunaan obat-obatan terlarang merupakan kegiatan klik dan kegiatan pesta yang populer, yang dimulai pada awal masa remaja.
d.        Percakapan
Setiap remaja memperoleh rasa aman bila berada di antara temen-temen dan membica-rakan hal-hal menarik atau yang mengganggunya.
e.         Menolong orang lain
Banyak kaula muda sangat berminat untuk menolong mereka yang merasa dirinya tidak mengerti, diperlakukan kurang baik atau merasa tertekan.
f.         Peristiwa dunia
Melalui pelajran-pelajaran di sekolah dan media masa, remaja seringkali mengem-bangkan minat terhadap pemerintahan, politik, dan peristiwa-peristiwa dunia. Minat ini diungkpakan melalui percakapan-percakapan dan bacaan dengan temen-temen, guru-guru dan orang tua.
g.        Kritik dan pembaharuan
Hampir semua kaula muda, terutam remaja perempuan, menjadi kritis dan berusaha memperbaiki orang tua, temen-temen, sekolah, dan masyarakat. Kritik-kritik mereka biasanya besifat merusak, dan bukan kritik membangun, dan usul-usul untuk memperbaiki biasanya tidak peraktis.

B.       Analisis Tawuran Antar Pelajar Ditinjau dari Teori Albert Bandura dan Erik H. Erikson
Teori belajar sosial bandura menunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap, dan reaksi orang lain. Kebanyakan dari pembelajaran yang dilakukan manusia, menurut bandura diperoleh melalui mengobservasi perilaku orang lain dalam konteks sosial dibandingkan dengan malalui prosedur-prosedur standar pengkondisian.
Menyikapai tawuran yang terjadi antar pelajar akhir-akhir ini, teori belajar sosial bandura bisa menjelaskan kenapa hal tersebut bisa terjadi pada remaja? Pada usia remaja pergaulan dan interaksi sosial dengan teman sebaya bertambah luas dan kompleks dibandingkan denga masa-masa sebelumnya termasuk pergaulan dengan lawan jenis. Remaja tidak lagi memilih teman-teman berdasarkan kemudahanya, apakah disekolah atau dilingkungan tetangga. Remaja mulai menginginkan teman yang memiliki nilai-nilai yang sama, yang dapat memahami, membuat rasa aman, mereka dapat mempercayakan masalah-masalah dan membahas hal-hal yang tidak dapat dibicarakan dengan orang tua.
Untuk memahami akar masalah dari tawuran pelajar, kita bisa meminjam beberapa perspektif teori sosiologi dalam menilik terjadinya krisis sosial serta solusi penyelesaiannya. 
Menurut teori “patologi sosial”, sebab pokok masalah sosial adalah kegagalan sosialisasi norma-norma moralitas yang membuat warga masyarakat melakukan pelanggaran terhadap ekspektasi kepatutan moral. Kisah tawuran pelajar bukanlah suatu kasus yang berdiri sendiri, melainkan ada kesejajarannya dengan kisah penegak hukum yang menjadi pelindung penjahat, “bonek” menghancurkan sarana publik, wakil rakyat lebih memperjuangkan aspirasi yang bayar. Erosi moralitas ini disebabkan oleh kegagalan proses belajar sosial akibat kerapuhan sistem pendidikan dan pranata sosial. Pendidikan terlalu menekankan aspek kognitif dalam kerangka “belajar untuk tahu” (learning to know), kurang memperhatikan arti penting “belajar untuk mengerjakan kecakapan hidup” (learn ing to do), “belajar mengembangkan jatidiri” (learning to be), serta “belajar mengembangkan keharmonisan hidup bersama” (learning to live together) (Yudi Latif,  REPUBLIKA.CO.ID; Edisi Kamis, 04 Oktober 2012). 
Meneurut Sander Diki Zulkarnaen (2011) dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar.

1.        Faktor internal
Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.

2.        Faktor keluarga
Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.

3.        Faktor sekolah 
Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya.

4.        Faktor lingkungan
Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi. (http://www.kpai.go.id).

Dari segi teori belajar sosial bandura yang menjelaskan bahwa sesorang akan meniru apa yang telah dia lihat melalui observasi. Tayangan televisi atau game yang berbentuk kekerasan akan menigkatkan agresivitas remaja. Maka tidak dipungkiri lagi tawuran anatar remaja salah satunya disebabkan dari peniruan remaja dari tingkah laku yang dipertontonkan melalui televisi atau game yang diamainkan.
Sebuah penelitian yang dalakukan oleh Albert Bandura dan para koleganya menunjukkan bahwa pentingnya observasional, terutama pada anak-anak dan remaja yang sedang belajar mengenai aturan dari perilaku sosial. Para peneliti ini maminta anak-anak dari kelompok bermain untuk menonton film dari dua orang, Rocky dan Johnny, yang sedang bermain dengan mainan. Dalam film tersebut, Johnny menolak untuk berbagi mainannya, dan Rocky merespon dengan memukulnya. Perilaku agresip Rocky ini kemudaian mendapatkan reinforcement karena berakhir dengan ia menguasai semua mainan. Johnny yang malang akhirnya hanya duduk disudut ruangan, sementara Rocky berjalan dan bergerak dengan sekarung penuh mainan dan sebuah mainan kuda ditangannya. Setelah melihat film tersebut, setiap anak dibiarkan sendiri selama 20 menit dalam sebuah ruangan bermain yang penuh mainan, termsuk juga mainan-mainan yang ditunjukkan dalam film tersebut. Dengan menyaksikan dibalik kaca dengan satu arah, para peneliti penemukan bahwa anak-anak menjadi lebih agresif dalam permainannya dibanding dengankan dengan kelompok kontrol yang tidak melihat film sama sekali. Beberapa anak mengikuti perilaku Rocky dengan hampir sama persis. Di akhir sesi tersebut, bahkan seorang anak perempuan bertanya  pada peneliti apakah ia boleh meminta sebuah karung (Wade dan Tavris, 2007:274)
Semenjak penelitian yang dilakukan bandura, ratusan penelitian eksperimental lainnya mengenai anak, remaja,, dan orang deawasa, telah menunjukkan hasil serupa, sehingga meyakinkan banyak psikolog bahwa mengobservasi agresi itu sendiri dapat meningkatakn agresifitas (Komisi kekerasan anak dan remaja APA, 1993; Bushman & Aderson, 2001; Eron, 1995; dalam Wade dan Tavris, 2007:275).
Sebuah meta analisis menunjukkan bahwa semakin tinggi frekuensi kontak terhadap kekerasan dalam film maupun televisi, semakin kuat pula kemungkinan seseorang untuk berperilaku secara agresif, bahkan setelah para peneliti mengontrol kelas sosial, kecerdasan dan faktor-faktor lainnya (Aderson & Bushman, 2001; Eron, 1995; dalam Wade dan Tavris, 2007:275). Lebih jauh lagi, ketika siswa-siswi sekolah mengurangi waktu yang biasa digunakannya untuk menyaksikan televisi, serta film, atau bermain perminan video, yang seringkali mengandung kekerasan, tingkat agreasifitasnya akan menurun  (Aderson dkk, 2001; dalam Wade dan Tavris, 2007:275).
Sebuah telaah yang dibuat oleh sekelompok ilmuan ternama menyimpulkan bahwa “penelitian mengenai kekerasan yang termuat dalam televisi, serta film, permainnan video, dan musik menunjukkan bukti yang jelas bahwa kekerasan pada media menigkatkan kecenderungan perilaku agresif dan keras,” baik dalam jangka pendek maupaun dalam jangka panjang (Aderson dkk, 2001; dalam Wade dan Tavris, 2007:275)
Kekerasan dan tawuran yang terjadi anatar pelajar sudah begitu membudaya, entah itu waktu efktif belajar atau puleng sekolah. Hal ini sudah sangat memperihatinkan dikalangan remaja. Peniruan yang dilakukan oleh pelajar terhadap kaka kelas mereka yang sering tawuran adalah salah astu penyebabnya. Inilah yang dijelaskan oleh Albert Bandura, bahwa sesorang akan meniru melaui  observasi terhadap perilaku orang.  Apalagi bentuk agresifitas berupa tawuran akan cepat ditiru oleh  yang mengamati dalam hal ini adik kelasnya yang tidak mau ketinggalan dalam maslah tawuran, lebih-lebih lingkungan  yang mendukung untuk malakukan tawuran sebagai kesetian terhadap kelompoknya. Padahal masa remaja adalah sebagai masa perkembangan yang sangat penting, sudah semestinya digunakan dan dirahakan kepada hal yang lebih positif.
Peneiruan terhadap teman sebayanya seperti meniru tingkah laku, pakaian, sikap dan tindakan teman-temannya dalam satu kelompok, adalah cara yang dalakukan oleh remaja sebagai tindakan dari hasil observasi. Ia ingin diterima oleh kawan-kawannya dan merasa sedih bila dikucilkan dari kelompok temennya. Kadang-kadang remaja dihadapkan pada pilihan yang sangat berat, apakah ia mematuhi orang tuanya dan meninggalkan pergaulannya dengan teman-teman eratnya, ataukah hanyut dalam pergaulan yang menyenangkan dan meninggalkan orang tuanya.
Menurut teori Erik H. Erikson pada masa remaja disebut dengan tahap  identitas versus kebingungan (Identity vs Role Confusion). Pada masa ini remaja berusaha untuk mencari tahu jati dirinya, apa makna dirinya, dan kemana mereka akan menuju. Mereka berhadapan dengan banyak peran baru dan status dewasa (seperti pekerjaan dan pacaran). Remaja perlu perlu diberi kesmpatan untuk mengeskplorasi berbgai cara untuk memahami identitas dirinya. Apabila remaja tidak cukup mengeksplorasi peran yang berbeda dan tidak merancang jalan ke masa depan yang positif, mereka bisa tetap bingung akan identitas dirinya (Santrock, 2004:87).
Kekacauan identitas adalah sindrom masalah-masalah yang meliputi; terbaginya gambaran diri, ketidakmampuan membina persahabatan yang akrab, kurang memahami pentingnya waktu, tidak bisa konsentrasi pada tugas yang memerlukan hal itu, dan menolak standar keluarga atau standar masyrakat. Seperti kecenderungan distonik lainnya, pada tingkat tertentu kekacauan identitas adalah normal dan bahkan diperlukan. Remaja harus mengalami keraguan dan kekcauan mengenai siapa dirinya sebelum mereka memperoleh identitas yang stabil. Mereka mungkin meniggalkan rumah, mengembara sendirian untuk mencari identitas diri, eksperimen dengan obat psikoterapik dan seks, mengidentifikasi diri kepada kelompok jalanan, atau memberontak melawan kemampanan masyarakat. Atau remaja itu mungkin sekedar diam-diam memutusakan di dunia mana mereka cocok, dan nilai-nilai yang mana yang mereka senangi (Alwisol, 2004:129).
Maslah tawuran antar pelajar dikalangan remaja adalah sebagai kekacauna identitas dari remaja. Identitas negatif akan menjadi pelarian dan pengganti atas kecemasan akan kekacauan identitas yang dialaminya. Salah satu bentuk identitas negatif adalah tawuran itu. Mereka ingin menunjukkan identitas keberadaan mereka sebagai remaja. Kebingu-gungan akan jati diri merka dilampiaskan dengan kekeresan berupa tawuran. Lebih-lebih dipengaruhi oleh angkatan kelas terdahulu mereka, sehingga melakuan tawuran sebagai peniruan dari perilaku terhdap angkatan kelas terdahulu mereka. Kekacauan identitas inilah remaja mencoba menentang atiuran-aturan yang ada di masayrakat, bahkan mereka lebih memilih dan mangakui nilai-nilai kelompok sebaya yang mereka yakini. Remaja tidak menghiraukan apakah perbuatan tawuran tersebut merugikan atau menguntukan bagi mereka., yang penting mereka ikut akan kelompok sebagai kesetian mereka terhadap kelompok tersebut.  

C.      Solusi Masalah Tawuran Antar Pelajar
Penyelesaian msalah tawuran dikalangan pelajar adalah tanggunag jawab bersama. Keluarga, sekolah, dan para penegak hukum harus aktif mencegah bahkan mengikis habis tawuran antar pelajar. Dari hasil analisis tawuran pelajar menurut teori dari Albert Bandura dan Erik H. Erikson, maka solusi yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

1.        Lingkungan keluarga
Orang tua harus memperhatikan apa yang di tonton, dan dimainkan anak lewat game. Perilaku mereka sangat dipengaruhi oleh model-model yang disajikan lewat media masa berupa televisi, tindak kekerasan dan perkelahi akan cepet ditiru oleh remja. Dipengaruhi oleh agresifitas model dalam game yang mereka mainkan. Model-model yang difilmkan, khusunya, sanggup memberikan pengaruh yang kuat. Salah satu implikasi utamanya dalah televisi, dimana anak atau remaja bisa menontonnya berjam-jam sampai selesai, tidak sadar mereka sedang membnetuk kehidupannya yang masih belia. Oleh karena itu orang tua harus mampu membatasi remaja dalam menonton TV yang menontonkan kekersan atau memainkan game yang dapat menigkatkan agresifitas mereka. Orang tua harus menjadai model yang baik bagi anak-anaknya.  Perilaku dari orang tua harus bisa ditiru dan dicontoh oleh anak-anaknya, sehingga dia punya model yang baik dalam hidupnya berupa ayah dan ibunya.
Dari segi identitas diri, orang tua harus bisa memahami keinginan remaja. Mereka tidak bisa dikekang sekehendak orang tua, tetapi harus diarahkan dengan bimbingan dari orang tua agar tidak timbul kekacauan identitas yang dilmpiaskan dengan kenakalan berupa tawuran. Keinginan dan kemauan yang menggebu-gebu dari remaja harus dipahami oleh orang tua secara bijak, sehingga tidak mnimbulkan pembe-rontakan dari anak dengan melampiaskan perlawananya terhdap orang tua berupa kenalakan yang berbentuk tawuran. Mereka msaih membutuhkan bimbingan dari orang tua untuk mendapatkan kekacauan identitas yang stabil.  Denagn demikian, tawuran anatar pelajar dapat diatasi mulai dari lingkungan keluarga yang memper-hatikan akan perkembangan identitas anaknya.   

2.        Linkungan sekolah
Untuk mecegah tawuran anatar pelaja, sekolah harus mampu megakomodasi bakat-bakat dan keahlian yang dimilki oleh anak didik. Menyediakan kegiatan ekstra kulikuler yang bermanfaat bagi anak didiknya. Tidak ada waktu yang terbuang percuma, hanya untuk tawuran. Fasilitas dan sarana yang mendukung untuk menciptakan dan menyalurkan bakat-bakat anak didik harus disediakan dengan memadai, sehingga perilaku mereka dapat tersalurkan ke hal-hal yang positif.
Di sekolah juga, guru harus menjadi model dan contoh yang baik bagi peserta didiknya. Guru dan dewan sekolah harus menberikan perilaku yang baik bagi peserta didiknya, sehingga peserta didik tidak mencari model di luar yang tidak patut ditiru dalam perilakunya.

3.        Memberikan hukuman
Upaya lainnya yang dapat dalkukan untuk mencegah tawuran adalah dengan memberikan hukuman dan sanksi yang membuat efek jera terhadap perilaku tawuran. Para penegak hukum harus tegas dalam memberikan hukuman dan sanksi terhdap perilaku tawuran. Meskipun terkadang upaya ini tidak efektif, buktinya hukuman dan sanksi ada tetapi tawuran masih terus meralajalela dikalangan pelajar. Setidaknya penerapan hukuman dan sanksi yang tegas dapat mengurangi perilaku tawuran dari pelajar.

Sedangkan menurut Panuju dan Umami (1999:164) tindakan yang dapat dilkukan untuk mengatasi kenakalan renmaja seperti tawuran adalah:
1.        Tindakan Preventif
a.         Usaha pencegahan timbulnya kenakalan remaja secara umum
1)        Mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas remaja;
2)        Mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami oleh para remaja. Kesulitan-kesulitan manakah yang biasanya menjadi sebab timbulnya penyaluran dalam bentuk kenakalan;
3)        Usaha pembinaan remaja:
a)      Menguatkan sikap mental remaja supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.
b)      Memberikan pendidikan bukan hanya dalam penambahan pengetahuan dan keterampilan melainkan pendidikan mental dan pribadi melalui pengajaran agama, budi pekerti, dan etiket.
c)      Menyediakan sarana-sarana dan meciptakan suasana yang optimal demi perkembangan pribadi yang wajar.
d)     Usaha memperbaiki keadaan lingkungan sekitar, keadaan sosial keluarga maupun masyarakat di mana terjadi banyak kenakalan remaja.
b.        Usaha pencegahan kenakalan remaja secara khusus
Dilakukan oleh para pendidik terhadap kelainan tingkahlaku para remaja. Pendidikan mental di sekolah dilakukan oleh guru, guru pembimbing, dan psikolog sekolah bersama dengan para pendidik lainnya. Sarana pendidikan lainya mengambil peranan penting dalam pembentukan pribadi yang wajar dengan mental yang sehat dan kuat. Misalnya kepramukaan, dan yang lainnya. Usaha pendidik harus diarahkan terhadap remaja dengan mengamati, memberikan perhatian khusus dan mengawasi setiap penyimpangan tingkah laku remaja di rumah dan di sekolah.
Pemberian bimbingan terhadap remaja tersebut bertujuan menambah pengertian remaja mengenai:
1)        Pengenalan diri sendiri: menilai diri sendiri dan hubungan dengan orang lain.
2)        Penyesuaian diri: mengenal dan menerima tuntutan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut.
3)        Orientasi diri: mengarahkan pribadi remaja ke arah pembatasan antara diri pribadi dan sikap sosial dengan penekanan pada penyadaran nilai-nilai sosial, moral dan etik.
Bimbingan yang dilakukan dengan dua pendekatan:
1)        Pendekatan langsung, yakni bimbingan yang diberikan secara pribadi pada remaja itu sendiri. Melalui percakapan mengungkapkan kesulitan remaja dan membantu mengatasinya.
2)        Pendekatan melalui kelompok di mana ia sudah merupakan anggota kumpulan atau kelompok kecil tersebut:
a)        Memberikan wejangan secara umum dengan harapan dapat bermanfaat.
b)        Memperkuat motivasi atau dorongan untuk bertingklaku baik dan merangsang hubungan sosial yang baik.
c)        Mengadakan kelompok diskusi dengan memberikan kesempatan menge-mukaka pandangan dan pendapat para remaja dan memberikan pengarahan yang positif.
d)       Dengan melakukan permainan bersama dan bekerja dalam kelompok dipupuk solidaritas dan persekutuan dengan pembimbing.

2.        Tindakan Represif
Usaha menindak pelanggaran norma-norma sosial dan moral dapat dilakukan dengan mengadakan hukuman terhadap setiap perbuatan pelanggaran.
a.         Rumah, remaja harus mentaati peraturan dan tata cara yang berlaku. Disamping itu perlu adanya semacam hukuman yang dibuat oleh orangtua terhadap pelanggaran tata tertib dan tata cara keluarga. Pelaksanaan tata tertib harus dilakukan dengan konsisten. Setiap pelanggaran yang sama harus dikenakan sanksi yang sama. Sedangkan hak dan kewajiban anggota keluarga mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan dan umur.
b.        Di sekolah, kepala sekolahlah yang berwenang dalam pelaksanaan hukuman terhadap pelanggaran tata tertib sekolah. Dalam beberapa hal guru juga berhak bertindak. Akan tetapi hukuman yang berat seperti skorsing maupun pengeluaran dari sekolah merupakan wewenang kepala sekolah. Guru dan staf pembimbing bertugas menyam-paikan data mengenai pelanggaran dan kemungkinan-kemungkinan pelanggaran maupun akibatnya. Pada umumnya tindakan represif diberikan diberikan dalam bentuk memberikan peringatan secara lisan maupun tertulis kepada pelajar dan orang tua, melakukan pengawasan khusus oleh kepala sekolah dan team guru atau pembimbing dan melarang bersekolah untuk sementara atau seterusnya tergantung dari macam pelanggaran tata tertib sekolah yang digariskan.

3.        Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi
Dilakukan setelah tindakan pencegahan lainnya dilaksanakan dan dianggap perlu mengubah tingkahlaku si pelanggar remaja itu dengan memberikan pendidikan lagi. Pendidikan diulangi melalui pembinaan secara khusus, hal mana sering ditanggulangi oleh lembaga khusus maupun perorangan yang ahli dalam bidang ini.

BAB III
 PENUTUP

A.      Kesimpulan
Dari pemaparan hasil analsis di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu:
1.        Istilah remaja dalam bahas latin disebut dengan adolescence yang memilki arti luas, mencakup kematangan mental, emosioanl, sosial, dan fisik. Rentang masa usia remaja antara 13-21 tahun, yang juga dibagai dalam masa remaja awal, anatara uisa 13/14 samapai 17 tahun, dan masa remaja akhir 17 samapi 21 tahun.
2.        Perkembangan sosial pada masa remaja merupakan puncak dari perkembangan sosial dari fase-fase perkembangan. Suatu penelitian longitudinal menyimpulkan adanya tiga pola orientasi sosial remaja, yaitu: Withdrawal vs. Expansive, Reaxtive vs aplacidity, dan Passivity vs Dominant.
3.       Ditinjau dari teori belajar sosial Albert Bandura, terjadinya tawuran antar pelajar dapat disebabkan oleh perilaku meniru dari hasil observasi atau pengamatan dikalangan remaja terhadap kekerasan yang dipertontonkan lewat media masa seperti TV atau lewat play station yang mereka mainkan. Mereka juga mengamati dan meniru tingkah laku, pakaian, sikap dan tindakan temam-temannya dalam satu kelompok dan gangnya sebagai bukti kesetian dalam kelompok atau gang tersebut. Hal tersebut bisa menjadi penybab terjadinya tawuran antar pelajar.
4.       Ditinjau dari teori Erik H. Erikson, tawuran antar pelajar dapat disebabkan oleh kekacauan identitas yang tidak stabil. Identitas negatif akan menjadi pelarian dan pengganti atas kecemasan akan kekacauan identitas yang tidak stabil yang dialaminya. Salah satu bentuk identitas negatif adalah bentuk tawuran.
5.       Solusi untuk mencegah tawuran antar pelajar jika ditinjau dari teori Albert Bandura adalah, di lingkungan  kelurga dalam hal ini orang tua harus bisa membatasi tontonan dan  mainan game yang berbentuk kekerasan, sehingga remaja tidak meniru dari model yang dipertontonkan dalam televisi atau game tersebut. Orang tua harus menjadai model dan contoh yang baik bagi anak-anaknya. Di sekolah, guru dan perangkat-perangkat lainnya harus bisa menjadi teladan bagi anak-nak didiknya, sehingga mereka tidak meniru perilkau yang negatif dari orang lain ketika selesai belajar di sekolah.
6.       Solusi untuk mencegah tawuran antar pelajar jika ditinjau dari teori Erik H Erikson adalah, orang tua harus bisa memperhatikan kemauan seorang anak, tidak boleh dikekang tetapi harus dibimbing dan diarahkan, karena mereka masih mempunya identitas yang labil. Mereka masih memilki kekacauan identitas yang tidak stabil yang membutuhkan bimbingan dan arahan baik dari ornag tua di rumah atau guru di lingkungan sekolah.



DAFTAR PUSTAKA

Al-Mighawar, Muhammad. 2006. Psikologi Remaja. Bandung: Pustaka Setia
Ali, Mohammad dan Asrori, Mohammad. 2004. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadain. Edisi Revisi. Malang: UMM Press
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi Kelima. Dialihbahsakan Oleh: Istiwidiyati dan Sosdjarwo. Jakarta: Erlangga
Panuju, Panut Dan Umami, Ida. 1999. Psikologi Remaja. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya
Santrock, John. W. 2007. Educational Psychologi, 2nd Edition. Dialihbahasakan oleh Tri Wibowo B. S. Kencana: Jakarta
Wade, Carole dan Tavris, Carol.  2008. Psikologi, Edisi Ke-9 Jilid 1.  Jakarta:  Erlangga
Aziza, Kurnia Sari. 2012. Tawuran SMA 6 Vs SMA 70 Menahun, Ada Apa?. Kompas. Com. Edisi Rabu, 26 September 2012 | 09:49 WIB

Latif, Yudi.  2012. Kisah Tawuran. REPUBLIKA.CO.ID. Edisi Kamis, 04 Oktober 2012, 01:00 WIB

Zulkarnaen, Sander Diki. 2011. Tawuran Pelajar Memprihatinkan Dunia Pendidikan. http://www.kpai.go.id. Diakses tanggal 3 Januari pukul 21.15.

http://www.psychologymania.com/2012/06/perkembangan-sosial-remaja.html [online]. Diakses tanggal 3 Januari 2012 pukul 21.30