Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain ---- Harta akan habis digunakan tanpa ilmu, tapi sebaliknya ilmu akan berkembang jika digunakan dan dimanfaatkan

Senin, 29 April 2013

Perencanaan, Instruksi, dan Teknologi






Perencanaan, Instruksi, dan Teknologi

PENDAHULUAN
BAB I
     
A.      Latar Belakang Masalah
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi, sangat berpengaruh terhadap penyusunan dan implementasi strategi pembelajaran. Perkembangan ilmu dan teknologi, tuntutan serta kebutuhan masyarakat menyebabkan perubahan komponen pembelajaran (guru, peserta didik, metode, serta lingkungan tempat berlangsungnya prosess pembelajaran). Perubahan tersebut menyebabkan adanya beberapa kecenderungan baru dalam pembelajaran, di antaranya adalah:
1.        Pusat pembelajaran yang semula adalah guru (teacher centered) beralih pada peserta didik  (students centered).
2.        Media pembelajaran yang semula berupa media konvensional cenderung berubah menjadi media elektronik.
Setiap guru yang mengajar, pasti menginginkan proses pembelajaran berhasil. Guru tidak hanya sekedar meyampaikan materi pelajaran belaka, tetapi bagaimana peserta didik paham dan mengerti terhdapa materi yang disampaikan tersebut. Fenomena-fenomena yang terjadi sekarang ini adalah guru mengajar hanya mengajar target tersampaikannya materi dan terpenuhinya jam mengajar selama 24 jam dalam seminggu. Tidak memperdulikan bagaimana meningkatkan kulaitas belajar peserta didik. Padahal peserta didik sangat membutuhkan pemahaman yang mendalam ter-hadapa materi, apalagi materi pelajaran yang mayoritas peserta didik menganggap sulit.
Menurut Jmal Ma’mur Asmani (2009) untuk meningkatkan kualitas belajar peserta didik, dibutuhkan sebuah proses kreatif dalam pembelajaran, yakni upaya-upaya penting yang dilakukan untuk mendayagunakan potensi kognitif dan afektif dari peserta didik secara optimal, sehingga ide-ide baru dan cerdas lebih terakomodasi. Proses kreatif juga berarti bagaimana membuat setiap peserta didik memiliki multi perspektif dan cara pandang yang luas terhadap sebuah fakta. Selain itu, proses kreatif juga berarti bahwa setiap peserta didik mampu mengamati hal-hal detail yang menjadi rujukan dalam berpendapat maupun menyelesaikan permasalahan baik untuk dirinya sendiri maupun komunitas dalam masyarakat.
Guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Di dalam kelas guru malaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Kegiatan mengajar pada hakikatnya adalah proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa. Semua komponen pengajaran yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.
Menciptakan pembelajaran yang berkualitas tidak semudah membalikan telapak tangan, membutuhkan suatu perencannaan yang matang dan penuh perhitungan.  Sering orang mengatakan bahwa jika orang gagal membuat suatu rencana, maka dia merencanakan kegagalan. Perencanaan adalah aspek penting untuk menjadi guru yang kompeten. Guru harus bisa mrencanakan pembelajaran semaksimal mumkin, baik itu perencanaan jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang.
Dalam pembelajaran guru senantias memanfaatkan teknolgi, sehingga dapat membantu guru dalam menyampaikan materi dan sekaligus membantu siswa dalam memehami materi pelajaran. Teknologi pembelajaran sangat dibutuhkan untuk men-ciptakan pembelajaran yang berkualitas. Peserta didik dewasa ini tumbuh di dunia yang jauh berbeda dengan di mana ketika orang tua dan kake mereka masih menjadi murid. Jika peserta didik ingin siap kerja, teknologi harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan di sekolah dan pembelajaran di kelas. Oleh sebab itu, untuk menghasilkan lulusan sekolah yang berkualitas, maka teknolgi pembelajaran sangat mendukung terciptanya tujuan pembelajaran.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dituliskan rumusan masalah, sebagai berikut:
1.        Bagaimana merencanakan suatu pembelajaran?
2.        Apakah yang dimaksud perencanaan instruksional?
3.        Bagaimana perencanaan dan instruksi Teacher-Centered?
4.        Bagaimana perencanaan dan instruksi Learner-Centered?
5.        Apakah yang dimaksud dengan teknologi pendidikan dan bagaimana pengaruhnya dalam pembelajaran?
  
C.      Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah: 
1.        Menjelaskan perencanaan pembelajaran.
2.        Mejelaskan definisi perencanaan instruksional.
3.        Menjelaskn perencanaan dan instruksi Teacher-Centered.
4.        Menjelaskan perencanaan dan instruksi Learner-Centered.
5.        Menjelaskan pengertian teknologi pendidikan dan pengaruhnya dalam proses pembelajaran.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Perencanaan Instruksional
Perencanaan instruksional adalah pengembangan atau penyusuanan strategi sistematik dan tertata untuk merencanakan pembelajaran. Guru perlu menentukan seperti apa dan bagaiman mereka akan mengajar. Walaupun beberapa instruksional yang baik kadang terjadi spontan, pelajaran harus tetap dirancanakan secara tepat. Perencanaan instruksional dimaksudkan untuk bisa dipergunakan di sekolah dasar, sekolah lanjutan, maupun perguruan tinggi. Bisa diterapkan mula-mula dari judul, pokok bahasan, dan untuk kesatuan mata pelajaran yang pada hakikatnya melibatkan beberapa pengajar.
Menurut Philip Commbs dalam (dalam Harjanto, 2005) perencanaan pembelajaran adalah suatu penerapan yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan pendidikan itu lebih efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan dan tujuan guru, peserta didik, dan masyarakat. Dengan demikian, perncanaan pembalajaran adalah proses pengambilan keputusan hasil berfikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan pembelajaran  tertentu, yakni perubahan prilaku serta kegiatan yang harus dilakasanakan sebagai upaya pencapaian tujuan tesebut dengan memanfaatkan potensi dan sumber belajar yang ada.
Perencanaan pembelajaran sangat penting dalam proses belajar mengajar. Guru punya acuan dalam menyampaikan meteri pembelajaran sebagaimana yeng tertuang dalam perencanaan pembelajaran. Guru perlu merencanakan apa yang harus dilakaukn oleh peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal, di samping guru juga harus merencankan apa yang sebaiknya diperankan oleh dirinya sebagai pengelola pembelajaran. Perencanaan dapat membantu pencapaian suatu sasaran secara lebih ekonomis, tepat waktu, dan memberi peluang untuk lebih mudah dikontrol dan dimonitor dalam pelaksanaannya. Karena itu perencanaan sebagai unsur dan langkah pertama dalam fungsi pengelolaan pada umumnya menempati posisi yang amat penting dan amat menentukan.
Menurut Harjanto (2006) ciri-ciri perencanaan pembelajaran, yaitu:
1.        Prencanaan pembelajaran merupakan hasil dari proses berfikir, artinya suatu perencanaan pembelajaran disusun tidak asal-asalan, tapi mempertimbangkan segala aspek dan potensi serta segala sumber daya yang ada untuk mendukung keberhasilan pembelajaran.
2.        Perencanaan pembelajaran disusun untuk mengubah prilaku siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
3.        Perencanaan pembelajaran berisi tentang rangkaian kegiatan yang harus dilak-sanakan untuk mencapai tujuan. Oleh karean itu, tujuan pembelajaran dapat berfungsi sebagai pedoaman dalam mendesain pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.
Memperhatikan ciri-ciri diatas, maka perencanaan pembelajaran merupakan proses yang kompleks dan tidak sederhana. Proses perencanaan memerlukan pemikiran yang matang, sehingga dapat berfungsi sebagai acuan dan pedoman guru dalam melaksanakan proses belajar-mengajar.
Ketika kita menyusun suatu perncanaan, tentu kita akan mengambil keputusan alternatif mana yang terbaik dalam proses pencapaiaan tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Dengan demikian, ada beberapa manfaat yang dapat kita petik dari penysusunan perencanaan pembelajara.
1.        Akan terhidar dari keberhasilan yang untung-untungan.
2.        Sebagai alat untuk memecahkan masalah.
3.        Untuk memanfaatkan sebagai sumber belajar secara tepat.
4.        Untuk membuat pembelajaran berjalan secara sistematis, terarah, dan terorganisir.

Robet Yinger (dalam Santrock, 2007; dan Wina Sanjaya, 2009) meng-identifikasi lima rentang perencanaan guru, yaitu
1.        Perncanaan tahunan
Perencanaan tahunan merupakan acuan dalam menyusun program-progrm selanjutnya. Pada perencanaan tahunan disusun waktu pelajaran efektif, hari-hari libur termasuk unit-unit materi dan buku-buku pelajaran. Program penyusunan tahunan pada dasarnya adalah menetapkan jumlah waktu yang tersedia untuk setiap kompetensi dasar.
2.        Perencanaan term
Pada perencanaan ini ditentukan set pelajaran beserta aktifitas siswa sebagai tujuan terminal atau tujuan antara.
3.        Perncanaan unit
Perencanaan unit pelajaran didasarkan pada tujuan umum yang harus ditempuh seperti yang telah dirumuskan dalam program tahunan. Banyaknya unit pelajaran yang dibutuhkan, sangat tergantung kepada organisasi kegiatan pembelajaran dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran.
4.        Perencanaan mingguan
Perencanaan mingguan merupakan program penjabaran dari perencanaan unit.
5.        Perencanaan harian
Pada perencanaan harian kegiatan belajar beserta tujuan pembelajaran disusun secara spesifik, sehingga keberhasilan pembelajaran dapat dilihat sektika.
Menurut Harjanto (2005) langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menentukan alokasi waktu pelajaran, yaitu:
1.        Tentukan pada bulan apa kegiatan belajar dimulai dan bulan apa berakhir pada semester pertama dan kedua.
2.        Tentukan jumlah minggu efektif pada setiap bulan setelah diambil minggu-minggu ujian dan hari libur.
3.        Tentukan hari belajar efektif dalam setiap minggu. Misalnya bagi sekolah yang menentukan belajar dimulai dari hari senin sampai jumat berarti hari efektif adalah 5 hari kerja, sedangkan sekolah yang menentukan belajar dari senin sampai sabtu, berarti hari efektif adalah 6 hari.

A.      Perencanaan dan Instruksi Teacher-Centered
Perencanaan dan instruksi Teacher-Centered adalah perencanaan pembelajaran yang berpusat pada guru. Dalam pembelajaran teacher-centerd guru menjadi peran utama dalam menyampaikan materi terhadap pesarta didik. Perencanaan dan instruksi disusun dengan ketat dan guru mengarahkan pembelajaran peserta didik. Menurut Santrock (2007) ada tiga komponen dalam perencanaan teacher-centerd adalah menciptakan sasaran behavioral (prilaku), menganalisis tugas, dan menyusun taksonomi (klasikfikasi) instrusional.
1.        Menciptakan sasaran behavioral (behavioral objectives)
Sasaran behavioral (behavioral objectives) adalah pernyataan tentang perubahan yang diharapkan oleh guru akan terjadi dalam kinerja murid. Menurut Robert Marger (1962) dalam Santrock (2007) sasaran behavioral harus spesifik. Marger berpendapat bahwa sasaran behavioral harus mengandung tiga bagian.
a.    Prilaku murid. Fokus pada apa yang akan dipelajari atau dilakukan murid.
b.    Kondisi di mana prilaku terjadi. Menyatakan bagaimana prilaku akan evaluasi atau dites.
c.    Kriteria kinerja. Menentukan level kinerja yang dapat diterima.
2.        Menganalisis tugas
Alat lain dalam perencanaan teacher-centered adalah analisis tugas, yang difo-kuskan pada pemecahan suatu tugas kompleks yang dipelajari murid menjadi komponen-komponen. Analisis ini melalui tiga langkah dasar, yaitu:
a.    Menentukan keahlian atau konsep yang diperlukan murid untuk mempelajari tugas.
b.    Mendaftar materi yang dibutuhkan untuk melakukan tugas, seperti kertas, pensil, kalkulator, dan sebagainya.  
c.    Mendaftar semua komponen tugas yang harus dilakukan.


3.        Menyusun taksonomi instruksional
Taksonomi instruksional dapat membantu pendekatan teacher-centerd. Taksonomi adalah sistem klasifikasi. Taksonomi Bloom dikembangkan oleh Benjamin Bloom dan kawan-kawannya (1956). Taksonomi ini mengklasifikasikan sasaran pendi-dikan menjadi tiga domain, yaitu:
a.    Domain kognitif
Taksonomi kognitif  Bloom mengandung enam sasaran, (Bloom dkk., 1965)
1)   Pengetahuan. Murid mempunyai kemampuan untuk mengingat informasi.
2)   Pemahaman. Murid memahami informasi dan dapat menerangkannya dengan menggunakan kalimat sendiri.
3)   Aplikasi. Murid menggunakan pengetahuan untuk memecahkan problem kehidupan.
4)   Analisis. Murid memcah informasi yang kompleks menjadi bagian-bagian kecil dan mengaitkan informasi dengan informasi lain.
5)   Sintesis. Murid mengombinasikan elemen-elemen dan menciptakan informasi baru.
6)   Evalusi. Murid membuat penilaian dan keputusan yang baik.
Pertama kali menyajikan taksonomi ini, Bloom mendiskripsikan enam sasran kognitif yang diurutkan secara hierarkis dari level rendah (pengatahuan, pemahaman) ke level tinggi (aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi), dengan sasaran level tinggi dibangun di atas sasaran level rendah. Sasaran kognitif Bloom dapat dipakai saat penilaian perncanaan. Soal/ benar salah, pilihan ganda, dan jawaban singkat seringkali dipakai untuk menilai pengetahun dan pemahaman. Pertanyaan esai, diskusi kelas, proyek, dan porto folio adalah cara  untuk menilai aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

b.    Domain afektif.
Taksonomi afektif  terdiri dari lima sasaran yang berhubungan dengan respon emosional terhadap tugas (Krathwohl, Bloom, & Meisa, 1964). Masing-masing dari lima sasaran itu mensyaratkan agar murid menunjukkan tingkat komitmen atau intensitas emosional tertentu. Kelima saasaran itu, adalah:
1)        Penerimaan. Murid mengetahui atau memperhatikan sesuatu di lingkungan.
2)        Respons. Murid termotivasi untuk belajar dan menunjukkan prilaku baru sebagai hasil dari belajar.
3)        Menghargai. Murid terlibat atau berkomitmen pada beberapa pengelaman.
4)        Pengorganisasian. Murid mengintegrasikan nilai baru keperangkat nilai yang sudah ada dan memberi prioritas yang tepat.
5)        Menghargai karakterisasi. Murid bertindak sesuai dengan nilai tersebut dan berkomitmennya kepada nilai tersebut.

c.    Domain psikomotor.
Sasaran psikomotor menurut Bloom adalah:
1)        Gerak refleks. Murid merespon suatu stimulus secara refleks tanpa perlu banyak berfikir.
2)        Gerak fundamental dasar. Murid melakukan gerakan dasar untuk tujuan tertentu.
3)        Kemampuan perseptual. Murid menggunakan indra, seperti penglihatan, pendengaran, sentuhan, atau melakukan sesuatu.
4)        Kemampuan fisik. Murid mengembangkan daya tahan, kekuatan, fleksi-belitas, dan kegesitan.
5)        Gerakan terlatih. Murid melakukan keterampilan fisik yang kompleks dengan lancar.
6)        Prilaku nondiskusif. Murid mengomunikasikan perasaan dan emosinya melalui gerak tubuh.

Taksonomi Bloom untuk domain kognitif, afektif, dan psikomotor dapat digunakan oleh guru untuk merancang instruksi. Di masa lalu, perancanaan instruksional umumnya difokuskan pada saran kognitif dan behavioral. Taksonomi Bloom memberikan pertimabangan yang luas dengan memasukkan domain afektif dan psikomotor. Taksonomi Bloom ini data dijadikan bahan pertimbangan guru bahkan dapat diaplikasikan dalam pembelajaran dengan pendekatan teacher-centared. Dengan memperhatikan taksonomi Bloom, guru stidaknya mempuanyai pengtahuan awal dalam menentukan capaian tujuan pembelajaran.
Pembelajaran dengan pendekatan teache-centerd menggambarkan guru menjadi peran utam dan menjadi instrkusi langsung dalam pembelajaran. Menurut Joyce  & Weil, 1996 dalam Santrock (2007) instruksi langsung (direct intruction)  adalah pendekatan teacher-centerd yang terstruktur yang dicirikan oleh arahan dan kontrol guru, ekspektasi guru yang tinggi atas kemajuan murid, maksimalisasi waktu yang dihabiskan murid untuk tugas-tugas akademik, dan usaha oleh guru untuk meminimalkan pengaruh negatif terhadap murid. Fokus instruksi langsung adalah aktifitas akademik, materi non akademik (seperti mainan, game, dan teka teki) cenderung tidak dipakai, interaksi murid guru (seperti percakapan atau perhatian tentang diri atau pribadi) juga tidak begitu ditekankan. Jadi, instruksi langsung dapat dikatakan menekankan adanya aktifitas dari kegiatan akademik yang terus menerus, tanpa memperhatikan pengaruh non akademik.
Selain instruksi langsung, perencanaan pembelajaran teacher-centered dapat menggunakan  bermacam strategi  yang sesuai dengan materi yang akan disamapaikan terhadap peserta didik. Menurut Santrock (2007) banyak startegi teacher-centered merepleksikan instruksi langsung dari guru, yaitu:
1.        Mengorintasikan
Sebelum memulai pelajaran, susunlah kerangka dan orientasikan murid ke dalam materi baru tersbut. Ada yang yang harus ditempuh dalam strartegi orientasi.
a.         Review aktivitas sehari seblumnya.
b.         Diskusikan sasaran pelajaran.
c.         Beri instruksi yang jelas dan eksplisit tentang tugas yang harus dikerjakan.
d.        Beri ulasan atas pelajaran untuk hari ini.
2.        Advance organizer
Advance organizer adalah aktifitas dan teknik pengajaran dengan membuat kerangka pelajaran dan mengorientasikan murid pada materi sebelum materi itu diajarakan (Ausabel 1960, dalam Santrock, 2007)). Advance organizer terdiri dari dua bentuk, yaitu:
a.         Exspository, adalah memberi murid pengetahuan baru yang akan meng-orientasikan mereka kepelajaran yang akan datang.
b.         Comporative, adalah memperkenalkan materi baru dengan mengaitkannya dengan apa yang sudah diketahui murid.


3.        Pengajaran, penjelasan, dan demostrasi
Pengajaran dengan paparan/ ceramah (lecturing), penjelasn dan demonstrasi adalah aktifitas yang biasa dilakukan guru dalam pendekatan instruksi langsung. Demontrasi sangat efektif untuk mengajarkan konsep dalam sains.
4.        Pertanyaan dan diskusi.
Dalam strategi ini berfungsi untuk merespon setiap kebutuhan pembelajaran murid sembari menjaga minat dan perhatian kelompok. Penting juga untuk mendis-tribusikan partisipasi luas sembari mempertahankan semangat belajar. Tantangan lainnya adalah mengajak murid memberikan konstribusi sambil mempertahankan fokus pada pelajaran.
5.        Mastery learning (pembelajaran penguasaan materi)
Mastery learning adalah pembelajaran satu konsep atau topik secara menyeluruh sebelum pindah ke topik yang lebih sulit. Menurut Bloom dan Carrol dalam Santrock (2007) pendeketan pembelajran penguasaan materi yng baik harus mengikuti prosedur sebagai berikut:
a.         Menyebutkan tugas atau pelajaran.
b.         Bagilah pelajaran menjadi unit-unit pembelajaran yang berhubungan dengan sasaran instruksional.
c.         Rancanglah prosedur intsruksional dengan memasukkan umpan balik korektif ke murid jika meraka gagal menguasai materi pada level yang dapat diterima, misalnya 90 persen benar. Umpan balik korektif bisa diberikan melalui materi pelangkap, tutoring, atau instruksi kelompok kecil.
d.        Beri tes pada akhir unit pelajaran, dan akhir pelajaran untuk mengevaluasi apakah murid sudah menguasai materi pada level yang dapat diterima.
6.        Seatwork (tugas di bangku kelas)
Seatwork adalah menyuruh semua murid atau sebagian besar murid untuk belajar sendiri-sendiri di bangku mereka.
7.        Pekerjaan rumah
Keputusan instruksional penting lainnya adalah seberpa banyak dan apa jenis pekerjaan rumah yang harus diberikan pada murid.

Jika pembelajaran berpusat pada guru, maka strategi tadi dapat digunakan dalam menyampaiakan materi terhadap peserta didik. Guru harus pandai-pandai memilih dan memilah strategi apa yang akan digunakan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang akan dicapai dari pembelajaran tersebut. Pembelajaran center-centered adalah cara terbaik untuk mengajarakan kahlian dasar, yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang terstruktur secara jelas (seperti yang dibutuhkan untuk pembelajaran bahasa, membaca, matematika, dan sains).

B.       Perencanaan dan Instruksi Learner-Centered
Perencanaan dan instruksi leaner-centerd adalah berpusat pada siswa, bukan guru. Peserta didik dituntut untuk aktif  dalam setiap pembelajaran, guru hanya berfungsi sebagai fasilitator. Pendekatan pembelajaran learner-centered akan membawa siswa kearah pemahaman yang mendalam. Dengan sendirinya, pserta didik akan menemukan pengetahuan sesuai dengan kemampuan dan kecerdaasan yang dimilki. Menurut Santrock (2007) sebelum menerapkan pembelajaran learner-centered, hendaknya seorang guru memperhatikan beberapa prinsip yang dikemabangkan oleh gugus tugas American Psychological Association (APA). Prinsip tersebut dikelompokan kedalam empat faktor, yaitu:
1.        Faktor kognitif dan meta kognitif
Faktor kognitif dan metakognitif ini terdiri atas enam prinsip, yaitu:
a.    Sifat proses pembelajaran.
b.    Tujuan proses pembelajaran.
c.    Konstruksi pengetahuan.
d.   Pemikiran strategis.
e.    Memikirkan tentang pemikiran (metakognisi).
f.     Konteks pembelajaran.
2.        Faktor motivasi dan emosionl
Motivasi dan emosional adalah faktor penting dari pembelajaran. Ada dua prinsip dalam faktor  motivasi dan emosional, yaitu:
a.    Pengaruh motivasi dan emosi terhad pembelajaran.
b.    Motivasi intrinsik untuk belajar.
c.    Efek motivasi terhadap usaha.
3.        Faktor sosial dan developmental
Faktor sosial dan developmen yang mendasari  dua prinsip leaner-centered, yaitu:
a.    Pengaruh perkembangan pada pembelajaran.
b.    Pengaruh sosial terhadap pembelajaran.
4.        Faktor perbedaan individual
Ada tiga prinsip leaner-centered dalam pendekatan faktor perbedaan individu, yaitu:
a.    Perbedaan individual dalam pembelajaran.
b.    Pembelajaran dan diversitas.
c.    Standar dan penilaian.
Prin-prinsip ini senatiasa bisa digunakan oleh guru sebagai rujukan untuk menjalankan pembelajaran di dalam kelas. Selain prinsip yang dapat mendukung pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, ada beberapa strategi pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran learner-centered. Menurut Santrock (2007) strategi yang dapat digunakan dalam pembelajran dengan pendekatan learner-centered, yaitu:
1.        Pembelajaran berbasis probelam
Strategi ini menekankan pada pemecahan problem dikehidupan nyata. Pembe-lajaran berbasis problem berfokus pada pemecahan suatu problem oleh murid melalui kerja kelompok kecil.
2.        Pertanyaan esensial
Pertanyaan esensial, adalah petanyaan yang merefleksikan inti dari kurikulum, hal yang paling penting yang hrus dieksplorasi dan dipelajari oleh murid.
3.        Pembelajran penemuan
Pembelajaran penemuan (discavery learning) adalah pembelajaran di mana murid menysusun pemahaman sendiri. Strategi ini mendorong murid untuk berfikir sendiri dan menemukan cara menyusun dan mendaptkan pengtahuan. Strategi ni sangat  efektif diterapkan dalam pembelajaran sains.

Pembelajarna leraning-centered menekankan siswa yang aktif dan kreatif. Dengan prinsip yang diajukan oleh American Psychological Association (APA) mendorong guru untuk membantu murud secara aktif mengkonstruksi pemahaman mereka, menentukan tujuan dan rencana, berfikir mendalam dan kreatif memantau pembelajaran mereka, memecahkan problem dunia nyata, mengembangkan rasa percaya diri yang positif  dan mengontrol emosi, memotivasi diri sendiri, belajar sesuai dengan level perkembangan, bekerja sama secara efektif dengan orang lain (termasuk orang yang berbeda latar belakang), mengevaluasi preferensi mereka, dan memenuhi standar.
Beberapa pendapat mengatakan bahwa dalam area dengan banyak probelem yang tidak didefinisikan dengan rapi, seperti ilmu sosial dan kemanusian, intruksi learner-centered dapat bekerja dengan efektif. Tetapi dalam domaoin yang terstuktur dengan baik, seperti matematika dan sains, pendekatan teacher-centerd adalah lebih baik. Pendekatan learner-centerd kurang efektif di level pengajaran awal untuk satu pelajaran karena murid belum punya pengethuan memadai untuk membuat keputusan tentang bagaimana dan apa yang harus mereka pelajari. 

C.      Teknologi Pendidikan
1.        Definisi Teknologi Pendidikan
Menurut Prof. Dr. Nasution, M.A (1994) dalam bahasa Inggris istilah teknologi pendidikan dikenal dengan intructional technology atau educational technologi. Salah satu pendapat ialah bahwa intructional technology means the media born of the communications revolution which can be used for instructional purpose alongside the teacher, the book, and the balckboard. Jadi yang diutamakan adalah media komunikasi yang berkembang secara pesat sekali yang dapat dimanfaatkan dalam pendidikan. Alat-alat teknologi ini lazim di sebut “hadware” antara lain berupa TV, radio, video Tape, komputer dan lain-lain. Teknologi pendidikan itu berupa hadware dan software. Software antara lain menganalisis dan mendesain urutama atau langkah-langkah belajar berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dengan metode penyajian yang serasi serta penilaian keberhasilannya.
Menurut prof. Dr. Yusuf Hadi Miarso dalam Drs. Muhammad Arif AM. M. A (2010) berpendapat bahwa teknologi berasal dari dari kata techne artinya adalah seni, cara, metode, dan kreatifitas yang ditempuh oleh seorang pendidik dalam mentransfer pengetahuan kepada peserta didik. Dalam kata lain guru harus mempuanyai cara-cara atau kahlian dalam mendidik peserta didik, sehingga tercapai tujuan pembelajaran.
Dari beberapa pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa teknologi pendidikan adalah suatu cara atau suatu metode yang digunakan oleh pendidik dalam mengarahkan peserta didik, untuk mencapai tujuan pembelajaran baik menggunakan alat berupa “hadware” maupun alat berupa ”sofware” sehingga dalam proses belajar mengajar peserta didik dapat mnerima materi dengan senang bukan karena terpakasa.

Menurut Prof. Dr. Nasution, M.A (1994) ciri-ciri teknolgi pendidikan, antara lain:
a.         Merumuskan tujuan dengan teliti dan  spesifik dalam bnetuk kelakuan  yang dapt diamati, sehingga dapat diukur kebehasilannya tercapainya tujuan itu.
b.        Meneliti pengetahuan keterampilan, dan sikap yang telah dimilki anak didik yaitu entry behavior (dahulu lazim disebut bahan apersepsi) sebagai dasar pelajaran baru, sehingga diketahui kemajuan yang dicapai berkat belajar-mengajar.
c.         Menganalisis bahan pelajaran yang akan disajikan dalam bagian–bagian yang dapat dipelajari dengan mudah.
d.        Berdasarkan analisis bahan pelajaran menentukan:
1)        Urutan mempelajri bahan itu agar tercapai hasil belajar yang optimal.
2)        Strategi yang paling tepat untuk menyampaikan atau menyajikan bahan itu.
e.         Menguji coba program itu untuk menentukan kelemahannya.
f.         Mengadakan perubahan, perbaikan atau revisi untuk meningkakan mutu program itu.
Teknologi pendidikan merupakan suatu proses kompleks dan terintegrasi yang meliputi manusia, alat, dan sistem termasuk diantaranya gagasan, prosedur, dan organisasi. Kemajuan teknologi dan informasi menuntut guru untuk selalu meng-gunakan teknologi dalam stiap aktifitas pembelajaran. Kegiatan belajar-mengajar tidak lagi menoton dan membosankan yang selama ini sering dialami oleh peserta didik, tapi dengan adanya teknologi pembelajaran proses belajar akan menyenagkan dan ber-kualitas. Penerapan teknologi pendidikan dalam pembelajaran dimaksudkan agar belajar lebih efektif, efisien, lebih banyak, lebih luas, lebih cepat dan lebih bermakna bagi kehidupan orang banyak.
Menurut Drs. Mohammad Arif A M. M.A. (2010) ada beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam mengaplikasikan teknologi pendidikan dalam pembelajaran, yaitu:
a.         Analisis kebutuhan
Pada tahap awal ini dilakukan identifikasi dan karakteristik awal anak yang akan diawali berdasarkan tahap usia dan jiwa perkembangan, analisis terhdap ling-kungan dan mengidentifikasi SDM dan sumber belajar yang tersedia.

b.        Menulis tujuan
Menuliskan tujuan-tujuan berdasarkan atas kompetesi yang bersifat umum sampai kepada hal-hal yang bersifat khusus, yang merupakan indikator belajar.
c.         Desain pembelajaran
Kegiatan tahap ini berupa pengetahuan strategi atau pola kegiatan yang akan dilaksanakan. Model dan strategi pembelajaran bisa disesuaikan dengan materi pelajaran.
d.        Pengembangan kelas
Dalam pengembangan bahan ada yang perlu kita perhatikan yaitu, minat, kebutuhan anak dan ketersedian media yang dibutuhkan.
e.         Pelaksanaan
Pada tahap ini yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara yang paling efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
f.         Evalusi
Kegiatan evaluasi harus berorientasi pada tujuan yang akan dicapai dan menggunakan alat dan prosedur yang tepat seperti penilaian hasil belajar melalui porto folio.
Begitu pentingnya penerapan teknologi pendidikan dalam kegiatan belajar mengajar, maka guru senantiasa mempunyai keahlian dan keterampilan yang memadai untuk mengggunakan teknologi yang akan digunakan tersebut. Tidak hanya sekedar menggunakan media seadanya, tetapi bagaimana menggunakan potensi dan sumber pembelajaran yang ada menjadi lebih kreatif dan inovatif.
Menurut Santrock (2007) contoh teknologi pembelajaran yang sangat berpe-ngaruh adalah medai internet dan komputer.

2.        Internet
Internet adalah inti dari komunikasi melalui komputer. Sistem internet berisi ribuan jarinagan komputer yang terhubung di seluruh dunia, menyediakan informasi yang tak terhingga yang dapat diakses oleh peserta didik. Dalam banyak kasus, internet mengandung informasi yang lebih baru dari buku teks.
World Wide Web adalah sistem pengambilan informasi hypermedia yang menghubungkan berbagai materi internet; materi ini mencakup teks dan grafis. Web memberikan struktur yang dibuthkan internet. Selain web di dalam internet murid bisa berbagi surat yang di sebut dengan surat elektronik atau lebih dikenal dengan e-mail.
Menurut Santrock (2007) ada beberapa cara yang efektif unutk menggunakan internet di kelas, yaitu:
a.         Untuk membantu menavigasi dan mengintegrasikan pengetahuan.
b.        Mendorong belajar bersama.
c.         Menggunakan e-mail.
d.        Untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman guru.

a.        Teknologi dan Diversitas Sosiokultural
Teknologi membawa beberapa isu sosial. Misalnya, akankah penggunaan teknologi di sekolah, terutama komputer, akan memperlebar jurang perbedaan antara murida kaya dan miskin, atau antara pria dan wanita (Spring, 2000 dalam Santrock, 2007). Problem akses komputer dan pemanfaatannya juga diperparah karena makin banyaknya komputer di rumah keluarga kelasa menengah ke atas.
Berikut ini beberapa rekomendasi untuk mencegah atau mengurangi kesenjangan dalam akses dan penggunaan komputer (Gipson, 1997; Sheffield, 1997; dalam Santrock, 2007)
1)        Saring materi teknologi untuk menghilangkan bias gender, kultural, dan etnis.
2)        Gunakan teknologi sebagi alat untuk menyediakan kesempatan pembelajaran yang aktif dan konstruktif untuk semua murid dari semua latar belakang gender, etnis, dan kultural.
3)        Beri murid informasi tentang pakar dari latar belakang gender dan etnis yang berbeda yang menggunakan teknologi secara efektif di dalam kehidupan dan karir mereka
4)        Bicaralah dengan orang tua tentang pemberian aktivitas belajar berbasis komputer di rumah. Cari cara bagaimana agen pemerintah dan komunitas dapat membantu pendanaan untuk membeli komputer untuk murid dari kelurga miskin. Ajak orang tua untum memberi umpan balik positif kepada anak gadis mereka agar menggunakan omputer.
  
b.        Standar untuk Murid yang “Melek Teknologi”
Internasional Society For Technology In Education (2002) bekerja sama dengan US Department of Education , telah mengembangkan standar untuk murid guna mencapai level grade yang berbeda. Berikut ini adalah ringkasan dari standar untuk grade pra-taman kanak-kanak sampai grade 2, 3 sampai 5, grade 6 sampai 8, dan grade 9 sampai 12.

1)        Pra-taman kanak-kanak sampai grade 2
a)    Gunakan alat input (seperti mous, keyboard, atau remote control) dan alat output (seperti monitor dan printer) untuk mengoperasikan komputer.
b)    Gunakan variasi media dan teknologi untuk mengarahkan aktifitas pembelajaran yang independen.
c)    Gunkan sumber daya multimedia yang pas, seperti buku interaktif, software pendidikan, dan ensiklopedia nultimedia dasar, untuk mendukung pembelajaran.
d)   Kerjasama dengan teman, anggota keluarga, dan orang lain saat menggunakan teknologi.
e)    Gunkakan sumber daya teknologi (seperti teka teki, program berpikir logis, alat menulis, dan kamera digital) untuk pembelajaran.
f)     Tunjukkan prilaku etis dan sosial yang positif saat menggunakan teknologi.

2)        Grade 3 sampai 5
a)    Gunakan keyboard dan alat input dan otput lain secara efektif.
b)   Diskusikan penggunaaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari dan keuntungan dan kerugian dari penggunaan itu.
c)    Gunakan alat teknologi (seperti multimedia, alat presentasi, alat Web, kamera digital, dan scenner) untuk kegiatan menulis, berkomunikasi, dan mempublikasikan aktifitas individual.
d)   Gunakan telekomunikasi secara efektif untuk mengakses informasi di tempat yang jauh, berkomunikasi dengan orang lain, dan mencari informasi yang menarik secara personal.
e)    Gunakan telekomunkasi dan sumber daya online (seperti e-mail, diskusi online, dan Web) untuk berpartisipasi dalam proyek pembelajaran besama.
f)    Gunakan sumber daya teknologi (seperti kalkulator, alat pengumpul data, video, dan software pendidikan) untuk aktifitas pemecahan maslah dan pembelajaran mandiri.

3)        Grade 6 sampai 8
a)    Aplikasikan strategi untuk mengidentifikasi dan memcahkan problem hardware dan software yang muncul dalam penggunaan sehari-hari.
b)    Tunjukkan pengtahuan tentang perubahan dalam teknologi informasi dan efeknya terhadap lapangan kerja dan masyarakat.
c)    Gunakan alat spesifik, software, dan simulasi (seperti peralatan lingkukangan, kalkulator, dan limgkumgan percobaan) untuk mendukung pembelajaran dan riset.
d)   Desain, kembangkan, publikasikan, dan paparkan produk (seperti halaman Web dan rekaman video).
e)    Teliti dan evaluasi akurasi, relevansi, dan bias bias dari sumber informasi elektronik yang berkaitan dengan problem dunia nyata.

4)        Grade 9 sampai 12
a)      Identifikasi kapabilitas dan keterbatasn dari teknologi kontemporer dan nilailah potensi sistem dan layanan ini untuk memenuhi kebutuhan personal dan pekerjaan.
b)      Gunanakan sumber daya teknologi untuk mengelola dan mengomunikasikan informasi personal dan profesional (seperti keuangan, jadwal, alamat, pembelian, dan korespondensi)
c)      Gunakan informasi online secara rutin untuk memenuhi kebutuhan riset, publikasi, komunikasi, dan produktivitas.
d)     Pilih dan aplikasikan alat teknologi untuk riset, analisis informasi, dan pemecahan problem dalam pembelajaran materi.     

3.        Komputer
Pengguanaan komputer sebagai medi pembelajaran dikenal dengan nama pem-belajaran dengan bantuan komputer CAI (Computer-Assited Instruction). Keberhasilan penggunaan komputer dalam pengajaran didasarkan pada berbagai faktor, seperti proses kognitif dan motivasi belajar. Guru harus mampu memaksimalkan media komputer sebagai teknologi pembelajaran yang akan membantu dalam mencapai tujuan pem-belajaran. Belajar dengan bantuan komputer akan menajadiakan belejar lebih menye-nangkan, lebih inovatif, dan tidak membosankan.

a.        Masa Depan:  Komputer di Mana-mana
Beberpa pakar komputer percaya bahwa generasi komputer berikutnya-generasi ketiga akan berupa ubiquitous computing, yang menekankan pada distribusi komputer ke lingkungan, ketimbang ke personal. Dalam lingkungan ini, teknologi akan mejadi latar belakang (Weiser, 2001; dalam Santrock, 2007). Ringkasnnya, ubiquitous computing akan berupa dunia pasca-PC. Perangkat teknologi umum, seperti telepon dan perangkat elektronik lainnya akan terkoneksi dangan internet dan pengguna mungkin tidak menyadari perangkat mana di lingkungannya yang terkoneksi. Perangkat komputer baru yang kecil, portabel, mobile, dan murah, diperkirakan akan menggantikan komputer dekstop. Ubiqitous adalah kebalikan dari realitas virtual. Jika realitas virtual menempatkan orang di dalam dunia yang diciptakan komputer, ubiquitous computing akan memaksa komputer eksisi di dunia manusia.

Teknologi pembelajaran begitu besar peranannya dalam proses belajar mengajar. Dengan teknologi pembelajaran peserta didik dikenalkan dengan berbagai macam pengetahuan yang dapat memberikan pemehaman kepada peserta didik tantang materi yang diajarkan. Berikut ada beberapa pedoman untuk memilh dan menggunakan teknologi di dalam kelas, yaitu:
1.        Pilih teknologi dengan tujuan untuk membantu murid melakukam ekplorasi aktif, menyusun, dan merestrukturisasi informasi.
2.        Cari cara untuk menggunakan teknologi sebagai bagian dari pembelajaran kolaboratif dan pembelajaran dunia nyata.
3.        Pilih teknologi yang menyajikan model positif bagi siswa.
4.        Keahlian pengajaran guru sangat penting, terlepas dari teknologi yang guru pakai.
5.        Teruslah mempelajairi teknologi dan tingkatkan pengetahuan dan kompetisi di bidang teknlogi.

Perkembangan teknologi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam dunia pendidikan, karena sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Teknologi mem-punyai peranan penting dan cenderung lebih menguntungkan dalam proses pem-belajaran. Sistem pembelajaran pun tidak harus melalui tatap muka secara langsung. Dengan kemajuan teknologi proses pembelajaran tidak harus mempertemukan siswa dengan guru, tetapi bisa juga menggunakan media internet. Siswa dapat bertatap muka secara tidak langsung dengan guru melalui webcam. Selain itu, siswa dapat bertanya kepada gurunya melalui e-mail, dan lain-lain. Dengan demikian, guru senantiasa mampu memanfaatkan teknologi untuk keberhasilan proses belajar-mengajar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan diawal.


BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dipaparkan diatas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:
1.        Perencanaan pemebelajaran sangat dibutuhkan dalam setiap kegiatan proses pembelajaran, hal ini bertujuan unutk menentukan hasil dan tujuan dari proses pembelajaaran itu sendiri.
2.        Santrock membagi rentang waktu perencanaan pembelajran dalam satu tahun menjadi perencanaan tahunan, perencanaan term, perencanaan unit, perencanaan mingguan, dan perencanaan harian.
3.        Perencanaan pembelajaran teacher-centered adalah pembelajaran yang berpusat pada guru. Teacher-centered adalah cara terbaik untuk mengajarkan keahlian dasar, yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang terstruktur secara jelas.
4.        Perencanaan pembelajaran learner-cntered adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa dituntuk untuk berperan aktif dalam setiap pembelajaran, sedangkan guru dapat berfungsi sebagi fasilitaor.
5.        Teknologi pembelajaran adalah suatu media yang dapat digunakan guru dan siswa untuk membantu pemahaman dalam kegiatan belajar-mengajar. Contoh teknologi yang dapat digunakan dalam pembelajaran adalah media internet dan komputer.  
6.        Teknologi pembelajaran sangat berpengaruh dalam kegiatan belajar-mengajar, karena dengan adanya teknologi pembelajran proses belajar-mengajar bisa lebih efektif, efisien, dan menyenagkan.

DAFTAR PUSTAKA

Harjanto. 2005. Perencanaan Pengajaran. Rineka Cipta: Jakarta
Jamal Ma’mur Asmani. 2009. Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif dan Inovatif. DIVA Press: Yogyakarta
John. W Santrock. 2007. Educational Psychologi, 2nd Edition. Dialihbahasakan oleh Tri Wibowo B. S. Kencana: Jakarta
Nasution, M.A. 1994. Teknologi Pendidikan. Bumi Aksara: Jakarta
Mohammad Arif A M. 2010. Teknologi Pendidikan.STAIN Kediri Press: Kediri
Wina Sanjaya. 2009. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Kencana Media Group: Jakarta