Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain ---- Harta akan habis digunakan tanpa ilmu, tapi sebaliknya ilmu akan berkembang jika digunakan dan dimanfaatkan

Jumat, 03 Mei 2013

Pendekatan Pemrosesan Informasi



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Salah satu teori kognitif yang menjelaskan proses belajar pada diri seseorang yang berkenaan dengan tahap-tahap proses pengolahan informasi adalah teori pemrosesan informasi. Menurut teori ini proses belajar tidak berbeda halnya dengan proses menerima, menyimpan dan mengungkapkan kembali dengan informasi-informasi yang telah diterima sebelumnya. Genjala-gejala tentang belajar dapat dijelaskan jika proses belajar itu dianggap sebagai proses transformasi masukan menjadi keluaran.
Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah, sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Adapun beberapa hal yang berkaitan dengan pemrosesan informasi yaitu perhatian, memori, keahlian dan matakognisi. Perhatian adalah memfokuskan sumber mental. Perhatian disini dalam proses pemrosesan informasi berfungsi sebagai memusatkan pikiran kepada informasi yang diterima. Sedangkan memori dalam proses pemrosesan informasi berfungsi sebagai tempat penyimpanan informasi. Kemudian keahlian yang berfungsi sebagai kemampuan kita untuk mengingat informasi. Serta yang terakhir adalah metakognisi yang berfungsi sebagai suatu model pemrosesan informasi yang efektif dengan mendorong mereka memeriksa apa yang mereka ketahui tentang cara pikiran mereka memproses informasi.
Berbagai pemahaman tentang belajar telah benyak dikemukakan oleh para ahli dari berbagai aliran. Paparan ini mencoba menyajikan pemahaman tentang belajar dari sudut pandang pendekatan pemrosesan informasi.

B.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, maka rumusan maslah yang dapat diambil adalah:
1.        Apa pengertian dari pendekatan pemrosesan informasi?
2.        Apa pengertian dari memori?
3.        Apa pengertian dari keahlian?
4.        Apa pengertian dari metakognisi?

C.      Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk:
1.        Mendeskripsikan pendekatan pemrosesan informasi.
2.        Mendeskripsikan memori.
3.        Mendeskripsikan keahlian.
4.        Mendeskripsikan metakognisi.
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Sifat Pendekatan Pemrosesan Informasi
Pendekatan pemrosesan  informasi menyatakan bahwa murid mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut. Inti pendekatan ini adalah proses memori dan proses berpikir (thinking). Menurut pendekatan pemrosesan  informasi, anak secara berthap mengembangkan kapasitas untuk memproses informasi, dan karenanya sedar berthap pula mereka bisa mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang kompleks.
Beberapa pendekatan pemrosesan informasi memilki kecenderungan yang lebih konstruktivis ketembang pendekatan lainnya. Mereka mempunyai kecenderungan konstruktivis memandang guru sebagai pembimbing kognitif untuk tugas akademik dan murid sebagai pelajar yang berusaha memahami tugas tersebut (Mayer, 2001, 2002).

1.        Pandangan Siegler
Robert Siegler (1998) mendeskripsikan tiga karakteristik utama dari pendekatan pemrosesan informasi : proses berpikir, mekanisme pengubah, dan modifikasi diri.

a.        Pemikiran 
Menurut pendapat Siegler (2002), berpikir (thinking) adalah pemrosesan informasi. Dalam hal ini Siegler memberikan perspektif luas tentang apa itu penyandian (encoding), merepre-sentasikan, dan menyimpan informasi dari dunia sekelilingnya, mereka sedang melakukan proses berpikir. Siegler percaya bahwa pikiran adalah sesuatu yang sangat fleksibel, yang menyebabkan individu bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan dalam lingkungan, tugas, dan tujuan. Tetapi, ada batas kemampuan berpikir manusia ini. Individu hanya dapat memerhatikan sejumlah informasi yang terbatas pada satu waktu, dan kecepatan untuk memproses informasi juga terbatas.

b.        Mekanisme  Pengubah
Siegler (2002) berpendapat  bahwa dalam pemrosesan informasi fokus utamanya adalah pada peran mekanisme pengubah dan perkembangan. Dia percaya bahwa ada empat mekanisme yang bekerja sama menciptakan perubahan dalam keterampilan kognitif anak: encoding (penyandian), otomatisasi, konstruksi strategi, dan generalisasi.
1)        Encoding 
Encoding adalah proses memasukkan informasi ke dalam memori. Siegler mengatakan bahwa aspek utama dari pemecahan problem adalah menyandikan informasi yang relavan dan mengabaikan informasi yang tidak relevan. Karena biasanya dibutuhkan waktu dan usaha untuk menyusun strategi baru, anak harus melatihnya untuk melaksanakan peyandian secara otomatis maksimalkan efektivitasnya.
2)        Otomatisitas
Istilah otomatisitas (automaticity) adalah kemampuan untuk memproses informasi dengan sedikit atau tanpa usaha. Seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, pemrosesan informasi menjadi makin otomatis, dan anak bisa mendeteksi hubungan-hubungan baru antara ide dan kejadian (Kail, 2002).
3)        Kontruksi Strategi 
Mekanisme ketiga adalah kontruksi strategi yaitu penemuan prosedur baru untuk memproses informasi. Siegler (2001) mengatakan bahwa anak perlu menyadikan informasi kunci untuk suatu problem dan mengoordinasikan informasi tersebut dengan pengetahuan sebelumnya yang relavan untuk memecahkan masalah.
4)        Generalisasi
Agar mendapat manfaat penuh dari strategi baru itu, diperlukan generalisasi. Anak perlu melakukan generalisasi, atau mengaplikasikan, strategi pada problem lain. Transfer terjadi saat anak mengaplikasikan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya untuk mempelajari atau memecahkan problem dalam situasi yang baru.

2.        Modifikasi Diri
Pendekatan pemrosesan informasi kontemporer menyatakan bahwa, seperti dalam teori perkembangan kognitif Piaget, anak memainkan peran Aktif dalam perkembangan mereka. Mereka menggunakan pengetahuan dan strategi yang telah mereka pelajari untuk menyesuaikan respons pada situasi pembelajaran yang baru. Dengan cara ini, anak membangun respons baru dan lebihcanggih berdasarkan pengetahuan dan strategi saebelumnya. Arti penting modifikasi diri dalam pemrosesan informasi dicontohkan metakognisi, yang berarti kognisi tentang kognisi, atau “mengetahui tentang mengetahui” (Flavell, 199; Flavell Miller, & Miller, 2002).

B.       Memori
Memori atau ingatan adalah retensi informasi. Para psikologi pendidikan memepelajari bagaimana informasi diletakan atau disimpan dalam memori, bagaimana ia dipertahnakan atau disimpan setelah disediakan (encoded), dan bagaimana ia ditemukan atau diungkap kembali untuk tujuan tertentu dikemudian hari. Memori membuat diri kita terasa berkesinambungan. Tnapa memori , anda tidak akan mampu menghubungkan apa yang terjdai kemarin dengan apa yang anda alami sekrang. Dewasa ini, para psikolog pendidikan menyatakan bahwa adalah penting untuk tidak memandang memori dari segi bagaimana anak menambahkan sesutu kedalam ingatan, tetapi harus dilihat dari segi bagaimana anak menyusun memori mereka (Schacter, 2001)

1.        Enconding
 Dalam bahasa sehari-hari, encoding banyak kemiripan dengan atensi dan pembelajaran. Saat murid mendengarakan guru bicara, menonton film, mendengarkan musik, atau bicara dengan kawan, dia sedang menyediakan informasi kedalam memori. Ada enam konsep yang berhubungan dengan encoding, yakni atensi, pengulangan, pemrosesan mendalam, elaborasi, mengkonstruksi citra (imaji), dan penatann organisasi)
a.         Atensi
Atansi adalah mengonsentrasikan dan memfokuskan sumber daya mental. Salah satu keahlian penting dalam memerhatikan adalah seleksi. Atensi bersifat selektif karena sumber daya otak terbatas (Mangels, Piction, & Craik, 2001).
Kemampuan berpindah dari satu aktivitas ke aktifias yang lain secara tepat adalah tantangan lain yang berhubungan dengan atensi. Misalnya, belajar menulis cerita yang bagus membuuthkan kemampuan unutk berpindah-pindah dari aktivitas mneulis huruf, menata kalimat, menyuun paragraf, dan menyampaikan cerita secara keseluruhan. Kamampuan meggeser atensi anak yang lebih tua dan orang dewasa lebih baik ketimbang anak yang lebih muda dan anak kecil.
  
b.        Pengulangan (rehearsal)
Pengulangan (rehearsal) adalah repitisi informasi dari waktu ke waktu agar informasi lebih lama berada di dalam memori. Pengulangan akan bekerja dengan baik apabila murid perlu menyandikan dan mengingat daftar item untuk periode waktu yang singkat. Saat mereka mempertahamkan informasi untuk jangka  waktu yang panjang, seperti saat mereka belajar untuk ujian yang akan dilakukan lebih dari seminggu lagi, maka lebih dilakukan strategi selain pengulangan. Alasan utama kenapa cara pengulangan tidak bisa bekerja baik untuk mempertahankan imformasi untuk jangka panjang adalah karena pengulangan sering kali hanya berupa mengulang-ulang informasi tanpa memberikan makna pada informasi itu. Ketika murid mengkonstruksi memori mereka dengan cara yang bermakna, mereka kan bisa mengingat dengan lebih baik. Seperti yang kan kita lihat nanti, mereka juga mengingat dengan lebih baik jika mereka memeproses materi secara mendalam dan mengelaborasinya.

c.         Perosesan mendalam
Setelah diketahui bahwa pengulangan  (rehearsal) bukan cara yang efisien untuk menye-diakan informasi untuk memori jangka panjang (Fergus Craik dan Robert Lockhart 1972) menagtakan bahwa kita dapat memproses informasi pada berbagai level. Teori mereka, yakni teori level pemrosesan, menyatakan bahwa pemrosesan memori terjadi pada kontinum dari dangkal ke dalam, dimana pemrosesan yang mendalam akan menghasilkan memori yang lebih baik. Ciri indrawi atau fisik dari suatu stimuli akan dianalisis terlebih dahulu pada level dangkal. Ini dialkukan dengan mendeteksi garis, sudut, garis, dan kontur (countur) dari huruf cetak atau frekuensi, durasi, dan kekrasan suara. Para peneliti telah menemukan bhwa individu mengingat informasi dengan lebih baik jika mereka memprosesnya pada level yang lebih dalam (Otten, Henson, & Rugg, 2001)

d.        Elaborasi
Elaborasi adalah ekstensivitas pemrosesan memori dalam penyandian. Jadi saat anda menyajikan konsep demokrasi kepad murid, mereka kemungkinan mengingatnya dengan lebih baik jika mereka diberi contoh lebih bagus dari demokrasi. Mencari contoh adalah cara yang bagus utuk mengelaborasi informasi. Misalnya, referensi diri (self-reference) adalah cara yang efektif untuk mngelaborasi informasi.
Penggunaan elaborasi berubah seiring dengan perkembangan (Schneider & Pressley, 1997). Remaja lebih mungkin menggunakan elaborasi secara spontan ketimbang anak-anak. Anak SD bisa diajari menggunakan elaborasi pada satu tugas belajarnya, tetapi jika dibandingkan dengan remaja, mereka mungkin tidak menggunakan elaborasi untuk tugas belajar lain. walaupun demikian, elaborasi verbal dapat menjadi strategi memori yang efektif bahkan untuk anak-anak SD. Salah satu alasan kenapa elaborasi bisa bekerja dengan baik dalam menyediakan informasi adalah karena elaborasi menambahkan perbedaan dalam kode memori (Ellis, 1987). Untuk mengingat satu informasi, seperti nama, pengalaman atau fakta geografi, murid perlu mencari satu kode yang memuat informasi di natara berbagai kode dalam memori jangka panjang mereka. Proses pencarian itu akan lebih mudah apabila kode memorinya unik (Hunt & Kelly, 1996)

e.         Mengkonstruksi citra (imaji)
Ketika kita mengkonstruksi citra dari sesuatu, kita sedang mengelaborasi informasi. Allan Paivio (1971, 1986) percaya bahwa memori disimpan melalui satu atau dua cara: sebagai kode verbal atau sebagi kode citra/imaji. Paivio mengatakan bahwa semakin detail dan unik dari suatu kode citra, maka semakin baik memori anda dalam menginbat informasi itu. Para peneliti telah menemukan bahwa mengajak anak untuk menggunakan imaji guna mengingat informasi verbal adalah cara yang baik bagi anak yang lebih tua ketimbang anak yang lebih muda (Schneider & pressley, 1997).

f.         Penataan
Apabila murid menata (mengorganisasikan) informasi ketika mereka menyediakanya, maka memori mereka akan banyak terbantu. Semakin tertata imformasia yang disampaikan, semakin mudah untuk mengingatnya. Ini terutama berlaku jika menata imformasi secara hierarkis atau menjelaskannya. Chunking (“pengemasan”) adalah strategi penataan memori yang baik, yakni dapat mengelompokan atau “mengepak” informasi menjadi unit-unit “higherorder” yang dapat diingat sebagai satu tunggal. Chunking dilakukan dengan membuat sejumlah besar informasi menjadi lebih mudah dikelola dan lebih bermakna.
  
2.        Penyimpanan
Setelah murid menyandikan informasi, mereka perlu mempertahankan atau menyimpan informasi. Di antara aspek paling menonjol dari penyimpanan memori adalah tiga simpanan utama, yang berhubungan dengan tiga kerangka waktu yang berbeda, memori sensoris, working memory (atau memori jangka pendek), dan memori jangka panjang.

a.         Kerangka waktu memori
Anak-anak mengingat beberpa imformasi selam kurang dari satu detik, beberapa informasi diingat selama setengah menit, dan informasi lainnya diingat bebrpa menit, jam, tahun, bahkan seumur hidup. Tiga tipe memori yang sesuai dengan kerangka waktunya adalah memori sensoris (yang berlangsung hanya beberpa detik); memori jangka pendek (juga disebut working memory, bertahan sekitar 30 detik); dan memori jangka panjang (bertahan samapi seumur hidup).
1)        Memori sensoris
Memori sensoris atau sensory memory mempertahankan informasi dari dunia dalam bentuk sensoris aslinya hanya selama beberapa saat, atau lebih lama ketimbang waktu murid menerima sensasi visual, suara, dan sesnsai lainnya. Murid mempunyai memori sensori untuk suara lama beberapa detik, kurang lebih seperti lamanya suatu gema suara. Akan tetapi, memeori sensoris untuk gambar visual bertahan hanya sekitar seperempat detik. Karena informasi sensosri bertahan hanya sesaat, adalah penting bagi murid untuk memperhatikan informasi sensoris yang penting bagi pemebelajaran mereka.

2)        Memeori jangka pendek
Memori jangka pendek adalah sistem memori berkapasitas terbatas di mana informasi diperthankan sekitar 30 detik, kecuali informasi itu di ulangi atau diproses lebih lanjut, di mana dalam kasus itu daya tahan simpanannya dapat lebih lama. Dibandingkan dengan memori sensoris, memeori jangka pendek kapasitasnya terbatas tetepi durasinya relatif lebih panjang. Keterbatasan kapasitasnya menarik perhatian George Miller (1956), yang mendiskripsikan dalam sebuah paper yang berjudul menarik “The Megical Number Seven, Plus or Minus Two”. Miller menujukkan bahwa terbatasanya kemempuan murid dalam menyimpan informasi tanpa bantuan eksternal. Biasanya batasan itu pada kisaran  7 ±  2 item.    
Berkaitan dengan memori jangka pendek ini, psikologi inggris Alan Badelley (1993, 1998, 2000, 2001) mengemukan bahwa working memory adalah sistem tiga bagian yang secara temporer mempetehankan informasi saat orang melakukan tugas. Working memory adalah semcam meja kerja mental di mana informasi dikelola atau dimanipulasi dan dipadukan untuk membantu kita membuat keputusan, memecah maslah, dan memahami bahasa tulis dan lisan. Perhatikan bahwa working memory tidak seperti toko pasif dengn rak-rak penyimpan informasi sampai dia pindah ke memori jngka panjang. Sebaliknaya, working memory adalahsistem memory yang sangat aktif (Engle, 2002). Gambar di bawah ini memperlihatkan pandangan: phonological loop, visual spatial memory, dan central executive. Ini bisa dianalogikan satu eksekutif (central executive) dengan dua sistem (phonological loop dan visual-spatial memory) yang membantu dalam mengerjakan tugas.
Sumber: https://www.google.com/search?q=memory+model+Atkinson-Shiffri
  • Phenological loop dikhususkan untuk menyimpan suara bahasa dari informasi pembicaraan. Bagian ini memuat dua komponen terpisah: kode akustik (suara) yang menghilang setelah beberapa detik, dan pengulangan (rehearsal), yang mambuat individu dapat mengulangi kata dalam gudang fonologi ini.
  • Visual-spatial working memory menyimpan informasi visual dan spesial, termasuk imaji visual. Seperti phenological loop, memory visual-spetial ini berkapasitas terbatas. Kedua memory ini berfungsi secsrs terpisah (independen). Anda bisa mngulang-ulang angka angka dalam phenological-loop sembari membuat susunan spasialdari angka-angka itu dalam visual-spatial working memori.
  • Cental executive bukan hanya mengintegrasikan informasi dari phenomological loop dan visual spatial working memory, tetapi juga dari memori jangka panjang. Menurut Baddeley, cental ececutiv memainkan peran penting dalam atensi, perencanaan, dan pengorganisasian perilaku. Central executive brtindak seperti penyelia (supervisor), yang memonitor informasi dan isu mana yang layak mendapat perhatian dan mana yang sebaiknya diabaikan. Ia juga memilih strategi mana yang dipakai untuk memeproses informasi dan memecehakn problem. Sebagaiman halnya dengan dua komponen lainnya, phenomological loop dan visual-spatial working memory, executive central  punya kemampuan terbatas.
3)        Memory jangka panjang
Memory jangka panjang adalah tipe memori yang menyimpan banyak informasi selam periode waktu yang lama secara relatif permanen. Kapasitas memori jangka panjang manusia sungguh mengherakan. Ilmuan komputer John von Neumann menyebutkan ukuran 2,8 x 10 (280 kuin triliun) bit, yang berarti bahwa kapasitas penyimpanan memori jangka panjang pada dasarnya tidak terbatas. Bahkan yang lebih mengesankan adalah efisiensi yang yang dilakukan sesorang untuk mengmbila informasi.

1.        Model Tiga Simpanan Memori
 Konsep memori tiga tahap yang telah kita deskripsikan di atas dikembangkan oleh Richar Atkinson dan Richard Shiffrin (1968). Menurut Model Atkinson-Shiffrin, memori melibatkan sekuensi tahap memory sensoris, memori jangka pendek, dan meori jangka panjang Seperti kita telah lihat, banyak informasi; hanya beda pada tahap memori sensoris, seperti suara dan penglihatan. Informasi ini hanya disimpan sebentar. Akan tetapi, ada beberapa informasi, teutama yang kita perhatikan, ditransfer ke memori jangka pendek, di mana ia bisa dipertahankan selama 30 detik (atau lebih dengan bantuan pengulangan). Atkinson dan Shiffrin mengatakan bahwa semakin lama informasi dipertahankan dalam memori jangka pendek dengan bantuan pengulangan, semakin besar kemungkinannya untuk masuk ke memori jangka panjang. Perhatikan gambar di bawah ini, bahwa informasi di memori jangka panjang bisa juga ditarik kembali ke memori jangka pendek.
Sumber: https://www.google.com/search?q=memory+model+Atkinson-Shiffri
Beberapa pakar memori kontemporer percaya bahwa  model Atkinson Shiffrin terlau sederhana (Bartlett, 2001). Mereka mengatakan bahwa memori tidak selalu bekerja dalam urutan tiga tahap yang rapi seperti dalam model Atkinson dan Shiffrin. Misalnya, para pakar ini menekankan bahwa working memory menggunakan isi memori jangka panjang secara lebih fleksibel ketimbang hanya sekadar mengambil informasi darinya. Walaupun mengandung masalah, model ini berguna untuk menjelaskan beberapa komponen memori.

a.        Isi memori jangka panjang
Sebagaimanan tipe memori dapat dibedakan berdasarkan berapa lama memori itu disimpan, demikian pula memori dapat dibedakan ber dasarkan isinya. Banyak psikolog kontemporer sependapat bahwa ada hierarki isi memori jangka panjang, seperti ditunjukkan dalam gambar di bawah ini (Bartlett, 2001; Squire 1987). Dalam hierarki ini, memori jangka panjang dibagi menjadi subtipe memori deklaratif dan memori prosedural. Memori deklaratif dibagi lagi menjadi memori episodik dan memori semantik.
1)      Memori deklaratif 
Memori deklaratif adalah rekoleksi atau pengingatan kembali informasi secara sadar, seperti fakta spesifik atau kejaidan yang dapat dikomunikasikansecara verbal. Memori deklaratif pernah disebut sebagai “mengetahui bahwa”, dan belakangan ini diberi label “memori eksplisit”. Bentuk memori deklaratif muridmisalnya penjelasan ulang atas kejadian yang telah mereka saksikan atau mendeskripsikan prinsip dasar matematika. Akan tetapi, murid tidak perlu bicara untuk menggunakan memori deklaratif. Apabila murid duduk dan merenungkan pengalamannya, maka memori deklaratif mereka sudah bekerja. Psikolog kognitif Endel Tulving (1972, 2000) membedakan dua subjek subtipe memori deklaratif; episodik dan semantik. 
a)         Memori episodik adalah retensi informasi tentang dimana dan kapan terjadinya suatu peristiwa dalam hidup. Kenangan murid tentang masa-masa awal sekolah, dengan siapa mereka makan siang, atau tamu yang datang di kelas mereka seminggu yang lalu, merupakan memori episodic.
b)        Memori semantik adalah pengetahuan umum murid tentang dunia. Memori ini mencakup :
·           Pengetahuan tentang pelajaran di sekolah (seperti pengetahuan geometri).
·           Pengetahuan tentang bidang keahlian yang berbeda (seperti pengetahuan catur dari pemain catur berumur 15 tahun).
·           Pengetahuan “sehari-hari” tentang makna kata, orang terkenal, tempat-tempt penting, dan hal-hal umum (seperti apa arti kata gaul atau siapa itu Nelson Mandela atau Gus Dur)

2)      Memori procedural 
Memori procedural adalah pengetahuan non deklaratif dalam bentuk keterampilan dan operasi kognitif. Memori procedural tidak dapat secara sadar diingat kembali, setidaknya dalam bentuk fakta atau kejadian spesifik. Ini membuat memori procedural menjadi sulit, jika bukannya mustahil, untuk dikomunikasikan. Memori procedural terkadnag dinamakanmengetahui bagaimana, dan belakangan ini juga disebut sebagai “memori implicit” (Schacter, 2000). Ketika murid mengaplikasikan kemampuan mereka untuk menari, naik sepeda, atau mengetik di komputer, maka mereka menggunakan memori procedural. Memori ini juga bekerja ketika mereka bicara dengan tata bahasa yang benar tanpamemikirkan bagiamana cara melakukannya.

b.    Mempresentasikan informasi dalam memori
Bagaimana murid memperesentasikan informasi dalam memori? Ada dua teori untuk menjawab pertanyaan ini: teori jaringan dan teori skema.
1)      Teori jaringan
 Teori jaringan (network theories) mendeskripsikan bagiamana informasi di memori diorganisir dan dihubungkan. Teori ini memerhatikan titik-titik  simpul (nodes) dalam jaringan memori. Misalkan konsep”burung”. Salah satu teori jaringan yang paling awal mendeskripsikan representasi memori sebagai representasi yang disusun secara hierarkis dengan  konsep yang lebih konkret (misalnya “kenari”) diletakkan di bawah konsep yang lebihabstrak (seperti “burung”). Tetapi, kemudian disadari bahwa jaringan hierarki itu terlalu rapi untuk mendeskripsikan secara akurat bagaimana kerja representasi memori actual. Mislanya, murid membutuhkan waktu lebih lama untuk menjawab pertanyaan, “apakah kenari termasuk burung?” Jadi, para peneliti memori dewasa ini membayangkan jaringan memori lebih sebagai jaringan yang tidak teratur. Burung tertentu, seperti kenari, lebih dekat dengan titik simbul atau pusat kategori “burung” ketimbang burung unta.
2)      Teori skema
Memori jangka panjang telah lama dibandingkan dengan perpustakaan. Idenya menyatakan bahwa memori kita menyimpan informasi seperti halnya perpustakaan atau toko buku. Dalam analogi ini, cara murid mengambil informasi di katakan sama dengan proses saat mereka mencari dan memeriksa buku. Akan tetapi, proses pemgambilan informasi dari memori jangka panjang tidak sama persis dengan analogi perpustakaan ini. Saat kita mencari sesuatu di gudang memori jangka panjang kita, kita tidak selalu menemukan “buku” tepat seperti yang kita inginkan, atau mungkin kita menemukan “buku” itu tetapi hanya menemukan “beberapa halaman” saja yang utuh kita harus merekonstruksi halaman lainnya.
Teori skema menyatakan bahwa ketika kita merekonstruksi informasi, kita menyesuaikannya dengan informasi yang sudah ada di bena kita. Sebuah skema adalah informasi konsep, pengetahuan,  informasi tentang kejadian yang sudah eksis dalampikiran seseorang. Anda ingat kembali deskripsi skema dalam teori Piaget? Skema dari pengetahuan sebelumnya memengaruhi cara kita menyandikan, membuat informasi, dan mengambil informasi. Berbeda dengan teori jaringan, yang berasumsi bahwa pengambilan informasi melibatkan fakta spesifik,teori skema menyatakan bahwa pencarian di emori jangka panjang tidak melibatkan fata yang sangat tepat. kita sering tak menemukan secara tepat apa yang kau inginkan, dan kita harus mengkonstruksikan fata lainnya. Ketika diminta mengambil informasi dari memori, kita seringkali mengisi gap antara memori kitayang berfragmentasi dengan bermacam-macam fakta yang akurat dan tidak akurat.
Teori skema muncul dalam studi Frederick Bartlett (1932) tentang bagaimana orang mengingat cerita. Bartlett memerhatikan tentang bagaimana latar belakang seseorang, yang disandikan dalam skema, akan mengungkapkan dirinya dalam rekonstruksi seseorang (modifikasi dan distorsi) atas isi cerita.
Kita punya skema untuk segala jenis informasi. Jika anda mengisahkan cerita di kelas Anda, seperti War of The Ghosts atau cerita lainnya, dan kemudian menyuruh murid menuliskan cerita itu, kemungkinan anda akan memperoleh banyak versi yang berbeda. Artinya, murid Adan tidak akan mengingat setiap detail dari cerita. Misalkan anda menceritakan tentang dua lelaki dan dua wanita yang mengalami kecelakaan kereta api di Perancis. Seorang murid mungkin akan merekonstruksi cerita itu dengan mengatakan b ahwa mereka tewas dalam kecelakaan pesawat, atau yang lainnya mungkin menyebut ketiga wanita dan tiga lelaki, atau mungkin laainnya mengatakan kecelakaan itu terjadi di jerman, dan sebagianya. Rekonstruksi dan distorsi memori tampak lebih jelas dalam memori orang yang terlibat dalam pengadilan. Dalam pengadilan kriminas seperti kasus O.J. Simpson, variasi memori orang tentang apa yang terjadi menjelaskan bagaimana kita merekonstruksi masa lalu di mana kita tidak menjelaskan masa lalu sama persis dengan kejadian sebenarnya.
Ringkasnya, teori skema secara akurat memprediksi bahwa orang tidak selalu menyimpan dan mengambil data seperti komputer mengambil data (Schacter, 2001). Pikiran juga dapat mendistorisi kejadian saat ia menyandikan dan menyimpan kesan dan realitas.
script adalah skema untuk suatu kejadian. Script sering kali mengandung informasi tentang cirri fisik, orang dan kejadian tertentu. Jenis informasi ini amat membantu ketika guru dan murid perlu mencari tahu apa yang terjadi di sekitar mereka. Dalam satu script untuk aktivitas seni, murid mungkin mengingat bahwa anda akan menyuruh mereka untuk menggambar, bahwa mereka harus menghiasi baju mereka, bahwa mereka harus mencari kertas gambar dan melukis dengan kuas, bahwa mereka harusm embersihkan kuas setelah selesai, dan seterusnya. Misalnya, murid yang datang terlambat mungkin akan tetap tahu apa yang harus mereka lakukan karena dia punya script aktivitas seni.

c.        Mengambil kembali dan melupakan
1)        Pengambilan kembali
 Ketika kita mengambil sesuatu dari “gudang data” mental, kita menelusuri gudang memori kita untuk mencari informasi yang relevan. Seperti hslnya dengan penyandian, pencarian ini bisa otomatis atau bisa juga membutuhkan beberapa usaha. Misalnya, jika Anda bertanya pada murid bulan apa sekarang,. Jawabannya mungkin muncul segera. Artinya, pengambilan kembali ini bersifat otomatis. Tetapi, jika Anda bertanya kepada murid Anda nama tamu yang datang ke kelas dua bulan lalu, maka proses pengambilan informasinya mungkin membutuhkan lebih banyak usaha.
Posisi item dalam suatu daftar juga memengaruhi tingkat kemudahan dan kesulitan dalam mengingat. Efek Posisi Serial berarti bahwa orang lebih mudah mengingat item yang ada di awal dan akhir dari suatu daftar ketimbang item yang ada ditengah. Misalnya, saat Anda memberi petunjuk pada murid arah untuk mendapatkan bantuan tutoring. Anda mengatakan, “Belok kiri di Rawamangun, belok kanan di Monas” ketimbang “Belok kanan di tugu tani.” Primacy effect berarti item di awal suatu daftar cenderung akan lebih diingat. Recency effect berarti bahwa item yang berada di akhir daftar juga cenderung lebihdiingat.
Efek posisi serial bukan hanya berlaku untuk datar, tetapi juga pada kejadian-kejadian. Jika anda memberikan pelajaran sejarah selama seminggu, dan kemudian menanyakannya kepada murid pada hari sEnin minggu berikutnya, mereka mungkin akan dapat mengingat apa yang anda katakana pada hari Jum’at minggu sebelumnya dan kurang bisa mengingat apa yang anda katakana pada hari Rabu minggu sebelumnya.
Faktor lain yang memengaruhi pengambilan ini adalah sifat dari petunjuk yang digunakan orang untuk mendongkrak memori mereka (Allan, dkk., 2001). Murid dapat menciptakan petunjuk yang efektif. Misalnya, apabila murid menghadapi “rintangan” untukmengingat nama tamu yang datang ke kelas dua bulan lalu, dia mungkin bisa menggunakan alphabet, menciptakan nama untuk masing-masing huruf. Apabila berhasil “tersandung” pad nama yang benar, kemungkinan dia akan mengenalinya.
Ketika seseorang diminta untuk mengingat serangkaian kata, kata yang terakhir biasanya paling diingat, kemudian kata diurutan pertama juga mudah diingat, sedangkan kata di tengah-tengah kurang bisa diingat secara efisien.
Konsisdensi lain dalam memahami pengambilan informasi adalah prinsip spesifitas penyandian (encoding specifity principle), yaitu bahwa asosiasi yang dibentuk saat penyandian atau pembelajaran cenderung akan menjadi petunjuk yang efektif untuk pengambilan kembali (Hannon & Craik, 2001). Misalnya, bayangkan seorang anak umur 13 tahun menyandikan informasi tentang Bunda Teresa: Dia lahir di Albania, menghabiskan sebagian besar hidupnya di India, menjadi biarawati Katolik Romawi, sedih melihat ornag-orang sakit dan sekarat di jalan-jalan di Calcutta, dan memenangkan Hadiah Nobel kemanusiaankarena membantu orang-orang miskin dan menderita. Kata-kata seperti Hadiah Nobel Calcutta, dan kemanusiaan dapat dipakai sebagai petunjuk saat anak itu berusaa mengingat namanya, Negara tempat dia tinggal, dan agamanya. Konsep spesifitas penyandian sesuai dengan diskusi elaborasi kita di atas: semakin banyak anak melakukan elaborasi dalam menyandikan informasi, semakin baik mereka dalam mengingat informasi. Spesifisitas penyandian dan elaborasi mengungkapkanbetapa saling terkaitnya penyandian dan pengambilan informasi tersebut.
Masih ada aspek pengambilan lain, yakni sifat dari tugas pengambilan itu sendiri (Nobel & Shiffrin, 2001). Mengingat (recall) adalah tugas memori di mana individu harus mengambil informasi yang telah dipelajari, seperti ketika murid harus mengisi soal atau menjawab pertanyaan. Rekognisi atau pengenalan (recognition) adalah sebab memori di mana individu hanya harus mengidentifikasi (“mengenali”) informasi yang telah dipelajari, seperti dalam soal ujian pilihan berganda. Banyak murid lebih suka pilihan berganda sebab soal seperti itu memberi mereka petunjuk sedangkan soal isian tidak memberikan petunjuk apa pun.

2)        Melupakan
Salah satu bentuk melupakan melibatkan petunjuk atau isyarat (cue) yang baru saja kita diskusikan. Cue dependent forgetting adalah kegagalan dalam mengambil kembali informaso karena kurangnya petunjuk pengambilan yang efektif (Nairne, 2000). Gagsaan cue dependent forgetting ini dpapat menjelaskan mengapa murid mungkin gagal untuk mengambil fakta yang dibutuhkan untuk ujian bahkan saat dia merasa yakin “mengetahui” informasi tersebut (Williams & Zacks, 2001). Misalnya, jika Anda belajar untuk menghadapi tes psikologi pendidikan dan diberi pertanyaan tentang perbedaan antara mengingat dan mengenalli dalam pengambilan informasi, anda mungkinakan bisa mengingat perbedaan itu dengan lebih baik apabila anda punya petunjuk “isilah titik-titik dan “pilihan berganda”.
Prinsip cue dependent forgetting sesuai dengan teori interferensi, yang menyatakan bahwa kita lupa bukan karena kita kehilangan memori dari tempat penyimpanan, tetapi karena ada informasi lain yang menghambat upaya kita untuk mengingat informasi yang kita inginkan. Bagimurid yang belajar untuk ujian biologi, kemudian untuk ujian sejarah, dan kemudian dia menempuh ujian biologi dahulu, maka informasi tentang sejarah akan mencampuri ingatan tentang biologi. Jadi, teori interferensi mengimplikasikan bahwa strategi belajar yang baik adalah mempelajari lebih dahulu ujian yang akandiberikan terakhir. Jadi dalam contoh di atas, murid akan lebih baik belajar sejarah dahulu dan kemudian belajar biologi. Strategi ini juga sesuai dengan recendy effect yang telah kita diskusikan di muka. Strategi ini juga sesuai dengan recency effect yang telah kita diskusikan di muka. Renungkan bagiamana pengetahuan teori interferensi ini bisamemantu anda saat anda mereview rencana anda untuk memberikan ujian bagi murid anda.
Sumber lupa lainnya adalah penurunan memori. Menurut decay theory, pembelajaran baru akan melibatkan pembentukan “jejak memori” neurokimia, yang akan terpecah. Jadi, teori ini menyatakan bahwa berlalunya waktu bisa membuat orang menjadi lupa. Peneliti memori Daniel Schacter (2001) menyebut pelupaan yang terjadi karena berlalunya waktu sebagai transience. Penurunan memori berlangsung pada kecepatan yang berbeda-beda. Beberapa memori tetap kuat dan bertahan selama periode waktu yang panjang, terutama jika itu punya kaitan emosional. Kita sering mengingat memori “yang terang” ini dengan akurasi yang tepat dan jelas. Misalnya, anda baru saja menyaksikan kecelakaan, atau mengalami kecelakaan, menjalani acara pesta kelulusan sekolah, mengalami pengalaman romantic, dan anda mendengar tentang runtuhnya world trade center. Kemungkinan besar anda akan mampu mengambil atau mengingat informasi ini bertahun-tahun sesudah kejadian tersebut terjadi.

C.      KEAHLIAN
Keahlian disini berhubungan dengan kemampuan kita untuk mengingat informasi baru tentang subjek. Kemampuan kita untuk mengingat informasi suatu subjek bergantung apa yang telah kita ketahui tentangnya (Carver & Klahr, 2001; Ericson & yang lainnya, 2006; Keil 2006). Sebagai contoh, kemampuan seorang siswa untuk menceritakan apa yang ia lihat ketika ia berada di perpustakaan sebagian besar ditentukan oleh apa yang telah ia ketahui tentang perpustakaan, seperti dimanakah letak buku dengan topic tertentu dan cara meminjam buku. Apabila pengetahuannya akan perpustakaan sangat sedikit, siswa tersebut akan memiliki lebih banyak kesulitan dalam meceritakan apa yang ada di sana. Salah satu alasan mengapa anak mengingat lebih sedikit ketimbang orang deawasa adalah karena mereka kurang ahli dalam banyak bidang.

1.        Keahlian dan Pembelajaran
Mempelajari perilaku dan proses pikiran para ahli bisa memberikan kita wawasan tentang cara membimbing para siswa untuk menjadi pelajar yang lebih efektif. Menurut National Reserch Council (1999), mereka lebih baik dari pada pemula dalam: Cara yang anda bisa gunakan untuk membantu siswa – siswa anda mempelajari dan mengingat ketrampilan – ketrampilan yang digunakan para ahli:
a.         Mendeteksi fitur – fitur dan pola informasi yang bermakna.
b.        Mengakumulasi lebih banyak pengetahuan materi dan mengukurnya dalam cara yang menunjukkan pemahaman topic.
c.         Mendapatkan kembali aspek pengetahuan yang penting dengan sedikit usaha.
d.        Menyesuaikan satu pendekatan untuk situasi baru.
e.         Menggunakan stratetegi yang efektik.

2.        Pola Organisasi yang Bermakna
Di dalam mendeteksi fitur dan pola organisasi yang berarti ini para ahli lebih baik dalam memperhatikan fitur – fitur penting dari masalah dan konteks yang mungkin diabaikan oleh para pemula (Bransford & yang lainnya, 2006). Para ahli juga memiliki pengingatan kembali yang lebih baik akan informasi dalam bidang keahlian mereka. Proses chunking, yang telah kita bahas sebelumnya, merupakan satu cara mereka mencapai pengingatan kembali yang unggul ini.

3.        Organisasi dan Kedalaman Pengetahuan
Pengetahuan para ahli diatur di sekitar idea tau konsep penting lebih baik bila dibandingkan dengan pengetahuan para pemula (National Research Council, 1999). Ini memberi para ahli pemahaman yang jauh lebih mendalam akan pengetahuan dibandingkan yang dimiliki para pemula (Bransford &yang lainnya, 2006; Simon, 2001; Voss & yang lainnya, 1984). Para ahli bidang tertentu biasanya memiliki jaringan informasi yang jauh lebih terelaborasi tentang bidang tersebut dibandingkan para pemula. Informasi yang mereka hadirkan dalam memori mempunyai lebih banyak titik temu, lebih banyak keterkaitan, dan organisasi hierarki yang lebih baik.

4.        Pemanggilan Cepat
Pengambilan kembali informasi yang relevan dapat dilakukan dengan banyak usaha, sedikit usaha, atau tanpa usaha sama sekali (National Research Council, 1999). Para ahli mendapatkan mendapatkan kembali informasi dalam cara yang hamper tanpa usaha dan otomatis, sementara para pemula mengembangkan banyak usaha untuk mendapatkan kembali informasi. Sebagai contoh, para pembaca yang sudah ahli bisa dengan cepat menandai kata2 dari sebuah kalimat dan paragraph, namun kemampuan para pembaca yang masih pemula untuk mengkodekan kata – kata masih belum lancar, sehingga mereka harus mengalokasikan banyak perhatian dan waktu untuk pekerjaan ini.

5.        Keahlian Adaptif
Pertanyaan penting lainnya adalah apakah beberapa cara dalam menata pengetahuan adalah lebih baik ketimbang cara lainnya dalam rangka membantu orang lebih fleksibel dan beradaptai dengan situasi baru (National Research Council, 1999). Pakar adaptif mampu untuk memahami situasi baru secara fleksibel, tidak acara kaku atau tetap (Hatano, 1990).

6.        Strategi
Para ahli menggunakan strategi yang efektif dalam memahami informasi dalam bidang keahlian mereka dan dalam mengajukannya. Sebelumnya kita membahas mengenai strategi yang bisa digunakan siswa untuk mengingat informasi. Adapun beberapa strategi efektif yang bisa dikembangkan siswa – siswi untuk menjadi ahli dalam pembelajaran:
a.         Menyebarkan dan mengonsolidasi pembelajaran
Proses belajar murid akan banyak tertolong apabila guru bicara dengan mereka tentang arti penting dari review atas apa yang telah mereka pelajari. Contohnya seperti pembelajaran yang membutuhkan periode yang lebih lama seperti mempersiapkan ujian nasional. Anak – anak yang mepersiapkan ujian akan mendapatkan manfaat dari distribusi pembelajaran selama periode yang lebih lama daripada hanya pembelajaran yang tergesa – gesa yang cenderung menghasilkan memori jangka pendek yang diproses secara dangkal, bukanya secara mendalam.
b.        Mengajukan pertanyaan untuk diri sendiri
Strategi pengajuan pertanyaan untuk diri sendiri ini bisa membantu anak dalam mengingat informasi. Ketika anak – anak menanyai diri mereka sendiri tentang apa yang telah mereka baca atau tentang satu aktivitas, mereka memperluas jumlah asosiasi informasi yang perlu mereka dapatkan kembali.
c.         Mencatat dengan baik
Mencatat ini juga adalah strategi yang bagus untuk menjadikan anak ahli dalam pembelajaran karena hal ini akan memberikan manfaat untuk mereka. Adapun beberapa strategi pencatatan yang bagus yaitu ringkasan, menulis garis besar, peta konsep. Ketiga strategi pencatatan tersebut membantu anak – anak memgevaluasi ide yang paling penting untuk diingat.
d.        Menggunakan sistem studi
Sistem studi yang baru dikembangkan untuk menjadikan anak ahli dalam pembelajaran adalah PQ4R yang merupakan singkatan dari Preview, Question, Read, Reflect, Recite dan Review.
1)      Preview adalah memberitahu siswa – siswi untuk secara singkat menyurvei materi guna mendapatkan organisasi secara keseluruhan.
2)      Question berarti mendorong siswa mananyai diri mereka sendiri tentang materi tersebut.
3)       Read berarti mendorong siswa – siswi untuk membaca dan menjadi pembaca yang aktif.
4)      Reflect berarti mendorong siswa – siswi untuk bersikap analitis dalam belajar.
5)      Recite berarti Mendorong anak untuk membuat pertanyaan mengenai materi tersebut.
6)      Review berarti memeberitahu siswa – siswi untuk membaca lagi seluruh materi dan mengevaluasi apa yang mereka ketahui.

7.        Memperoleh Keahlian
Dalam memperoleh kehlian, maka ada dua hala yang harus menjadi perhatian, yaitu:
a.         Latihan dan motivasi
Salah satu pandangan mengenai keahlian menyatakan bahwa latihan yang disengaja adalah syarat untuk menjadi seorang ahli atau pakar. Ini bukan hanya satu jenis latihan. Ini meliputi latihan tugas pada level kesulitan yang tepat untuk individual, memberikan umpan balik informasi, mengizinkan kesempatan untuk repitisi, dan mengizinkan koreksi kesalahan (Ericson, 1996). Latihan yang panjang itu membutuhkan motivasi yang besar. Murid yang tidak termotivasi untuk latihan berjam-jam biasanya tidak akan menjadi pakar dalam area tertentu.
b.        Bakat
Sejumlah psikolog yang mempelajari keahlian, berpendapat bahwa keahlian bukan hanya membutuhkan latihan dan motivasi (bloom, 1985; Shiffrin, 1996; Stenberg & Ben-Zeev, 2001), tetapi harus ada bakat yang dibawa sejak lahir. Hereditas memang penting, meskipun demikian bakat yang dibawa tidak akan berhasil tanpa adanya motivasi dan latihan ekstensif. Bakat saja tidak cukup membuat orang menjadi pakar.

D.      METAKOGNISI
Pengetahuan metakognitif bisa dibedakan dari aktivitas metakognitif. Pengetahuan metakognitif melibatkan pemantauan dan refleksi pemikiran terbaru seseorang. Ini mencakup pengetahuan factual, seperti pengetahuan tentang tugas, tujuan diri sendiri dan pengetahuan strategis, seperti bagaimana kita menggunakan prosedur tersebut dalam menyelesaikan suatu masalah. Aktivitas metakognitif terjadi ketika para siswa secara sadar menyesuaikan dan mengatur strategi pemikiran mereka selama menyelesaikan permasalahan dan pemikiran yang memiliki maksud tertentu (Ferrari & Sternberg, 1998; Khun dan lainnya, 1995).
Seorang ahli dalam pemikiran anak-anak, Denna Khun berpendapat bahwa metakognisi seharusnya merupakan fokous dari upaya-upaya untuk membantu anak-anak pemikir kritis yang lebih baik, terutama dalam tingkat menengah pertama dam menengah atas. Ketrampilan kognitif urutan pertama memungkinkan anak-anak untuk mengetahui tentang dunia (dan telah merupakan fokus utama dari program pemikran kritis), dan ketrampilan kognitif urutan kedua-ketrampilan meta pengetahuan- yang melibatkan pengetahuan tentang diri sendiri dan orang lain.

1.        Perubahan Developmental
Banyak studi developmental yang diklasifikasikan sebagai “metakognitif” memfokuskan pada meta memori, atau pengetahuan tentang mamori. Ini mencakup pengetahuan umum tantang memori, seperti pengtahuan bahwa tes pengenalan lebih mudah ketimbang tes mengingat. Ini juga mencakup pengtahuan tentang memori seseorang, seprti kamampuan murid memonitor apakah dirinya sudah cukup belajar untuk menghadapi ujian yang akan dilangsungkan minggu depan. Pada usia lima atau enam tahun, anak biasnya mengetahui bahwa item yang familiar labih mudah unutk dipelajari ketimbang item yang kurang dikenal, bahwa daftar pendek lebih mudah ketimabnag menginagat dan bahwa lupa lebih mungkin terjadi seiring dengan berjalannya waktu (lyon & Flavell, 1993).

2.        Model Pemrosesan Informasi yang Baik
Para ahli yakin bahwa ada tiga langkah utama untuk menjadikan kognisi anak-anak menjadi baik, yaitu:
a.       Anak-anak diajari oleh orang atau guru untuk menggunakan strategi tertentu. Semakin sering anak-anak diberikan stimulasi intelektual baik disekolah maupun dirumah maka akan memperbanyak strategi spesifik yang akan mereka temui dan mereka pelajari.
b.      Guru mungkin menuujukkan persamaan dan perbedaan dalam banyak strategi dalam bidang tertentu.
c.       Siswa mengenali manfaat umum dari penggunaan strategi yang nantinya menghasilkan pengetahuan strategi umum. Mereka berusaha menggabungkan hasil pembelajaran yang dirasa berhasil dengan hasil pembelajaran dengan usaha yang mereka kerahkan dalam mengevaluasi, memilih dan memantau penggunaan strategi (pengetahuan dan aktivitas metakognitif).

3.        Strategi dan Regulasi Metakognitif
Kunci dari pendidikan adalah membantu para siswa mempelajari strategi yang kaya yang nantinya dapat menghasilkan solusi dari sebuah masalah. Pemikir yang baik pasti tahu kapan dan dimana harus menggunakan strategi yang dimilikinya. Pressely berpendapat bahwa ketika para siswa diberikan pembelajaran tentang strategi yang efektif, mereka cenderung dapat menggunakan strategi yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Ia menekankan bahwa siswa mendapatkan manfaat ketika guru mempraktekkan strategi yang sesuai.
Mempelajari cara menggunakan strategi dengan efektif seringkali membutuhkan waktu yang lama. Awalnya, dibutuhkan waktu untuk menjalankan strategi tersebut, dan dibutuhkan bimbingan serta dukungan dari para guru. Dengan latihan, para siswa belajar untuk menjalankan strategi tersebut dengan lebih mudah dan lebih cepat. Latihan berarti para siswa meggunakan strategi yang efektif secara terus menerus sampai mereka benar-benar dapat melakukannya secara otomatis. Untuk menjalankan strategi dengan efektif mereka harus menyimpan strategi tersebut dalam jangka panjang, dan latihan. Para pelajar juga harus termotivasi untuk menjalankan strategi ini, jadi implikasi yang penting untuk membantu para siswa mengembangkan strategi adalah setelah strategi dipelajari, mereka biasanya membutuhkan lebih banyak waktu untuk mempelajarinya sebelum dapat menggunakannya secara efisien.

BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan:
1.        Robert Siegler mendeskripsikan tiga karakteristik utama dari pendekatan pemrosesan informasi, yaiutu:  proses berpikir, mekanisme pengubah, dan modifikasi diri.
2.        Menurut Gagne bawa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diaolah, sehingga menghasilkan keluaran dalam hasil belajar.
3.        Adapun beberapa hal yang berhubungan dengan pemrosesan informasi yaitu perhatian, memori, keahlian, dan metakognisi.
4.        Perlu adanya cara yang bisa digunakan untuk membantu siswa meningkatkan perhatian, memori, keahlian, dan metakognisi, sehingga siswa dapat memroses informasi secara lebih efektif dalam proses belajar dan pembelajaran di kelas.

DAFTAR PUSTAKA

John. W Santrock. 2007. Educational Psychologi, 2nd Edition. Dialihbahasakan oleh Tri Wibowo B. S. Kencana: Jakarta
Ilma Ef Hidayati. 2012. Pemrosesan Informasi. Online. [Tersedia]:  http://teknologipendidikan11086ilmaefha.wordpress.com/2012/05/27/pemrosesan-informasi-2/. Diakses tanggal 7 Januari 2013 pukul 21.10
Muhtar, Zulkifli. 2011. Teori Pemrosesan Informasi. Online [Tersedia]:http://blogzulkifli.wordpress.com/2011/06/08/teori-pemrosesan-informasi/. Di akses tanggal 7 Januari 2013 pukul 21.30