Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain ---- Harta akan habis digunakan tanpa ilmu, tapi sebaliknya ilmu akan berkembang jika digunakan dan dimanfaatkan

Sabtu, 27 April 2013

Social Learning Theory (Albert Bandura)


Social Learning Theory
Albert Bandura


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Belajar sangat penting dalam perkembangan diri seseorang, dengan belajar seseorang telah mengalami suatu proses menuju kearah yang lebih baik.  Hasil belajar berupa perubahan perilaku atau tingkah laku.  Seseorang yang belajar akan berubah atau bertambah perilakunya, baik yang berupa pengetahuan, keterampilan, atau penguasaan nilai-nilai sikap.
Dalam prosess perkembangan menuju kematangan senantiasa manusia selalu belajar, baik itu belajar terhadap pengalaman, belajar terhadap orang lain, maupaun belajar terhdap lingkungan sekitar. Tanpa adanya proses belajar, maka manusia tidak akan berkembang, bahkan akan tertinggal dari segi ilmu dan pengalaman. Proses belajar sendiri tidak dapat diobservasi maupun dilihat secara abstrak tetapi melalui memanifestasikan dari suatu kegiatan belajar seseorang. Dengan kata lain, belajar harus mengalami dan melakukan latihan- latihan.
Dalam kaitanya dengan belajar ini sangat banyak teori- teori yang membahas atau yang menyinggung tentang belajar, dari kebanyakan teori dan tokoh- tokoh kami mengangkat gaya belajar social (Social Lerning) yang di kemukakan oleh Albert Bandura seorang tokoh Psikologi yang menganut aliran Behaviorisme, dimana segala sesuatu dari proses belajar ini berkaitan dengan envaironment (lingkungan).
  
BAB II
TINJAUAN TEORI

A.      Biografi Albert Bandura
Albert Bandura dilahirkan di Mundare Northern Alberta Kanada, pada 04 Desember 1925. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di desa kecil dan juga mendapat pendidikan di sana. Pada tahun 1949 beliau mendapat pendidikan di University of British Columbia, dalam jurusan psikologi. Dia memperoleh gelar Master didalam bidang psikologi pada tahun 1951 dan setahun kemudian ia juga meraih gelar doctor (Ph.D). Bandura menyelesaikan program doktornya dalam bidang psikologi klinik, setelah lulus ia bekerja di Standford University.
Di awal publikasinya, kebanyakan tulisan Bandura membahas psikoterapi dan tes Rorschach. Tahun 1959, buku yang ditulis bandura bersama Walters yang berjudul Adolescent Aggression terbit. Karya Bandura yang lain meliputi  Social Learning Theory (1977), Social Foundation of Though and Action (1986), dan Self Efficacy:The Excercise of Control (1997).
Pada tahun 1974, Bandura dipercaya menjadi presiden APA (American Psychological Association), kemudian pada tahun1980 menjadi presiden WPA (Western Psychological Association), dan menjadi presiden kehormatan Canadian Psychological Association tahun1999. Selain itu, Bandura juga banyak mendapat gelar kehormatan, salah satunya terpilih menjadi Rekanan Kehormatan American Academy of Arts and Science sejak 1980.
Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa di sekitarnya. Teori Social Bandura mnunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap, dan reaksi emosi orang lain.

B.       Teori Belajar Sosial (Social Learning Teory)
Bandura menyatakan  bahwa orang belajar banyak perilaku melalui peniruan,
bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun yang diterima. Kita bisa meniru beberapa perilaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model, dan akibat yang ditimbulkannya atas model tersebut. Proses belajar semacam ini disebut "observational learning" atau pembelajaran melalui pengamatan.
Albert Bandura mengembangkan banyak prinsip teori belajar sosial (social learning teory). Sementara bahaviorisme memandang lingkungan memainkan peranan pada manusia sebagi daya pendorong utama untuk perkembangan, teori social Bandura meyakini bahwa daya pendorong untuk perkembangan masa datang dari seseorang. Teori belajr kelasik menyatakan bahwa manusia belajar perilaku sosial yang sesuai, terutama dengan mengamati dan meniru model yaitu dengan menyaksikan orang lain. proses ini dinamakan modelling atau pembelajran dengan pengamatan (observational learning).
 Manusi memperkarsai atau mempercepat pembelajaran mereka sendiri dengan memilih model untuk ditiru misalanya, orang tua atau atlet olahraga yang terkenal. Peniruan model merupakan unsur terpenting dalam cara anak untuk mempelajari suatu bahasa, menangani agresi, mengembangkan kesadaran moral, dan belajar berbagai perilaku yang sesuai denag gendernya.
Teori belajar sosial ini menjelaskan bagaimana kepribadian seseorang berkembang melalui proses pengamatan, di mana orang belajar melalui observasi atau pengamatan terhadap perilaku orang lain terutama pemimpin atau orang yang dianggap mempunyai nilai lebih dari orang lainnya. Istilah yang terkenal dalam teori belajar sosial adalah modelling (peniruan). Modelling lebih dari sekedar peniruan atau mengulangi perilaku model tetapi modelling melibatkan penambahan dan atau pengurangan tingkah laku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus melibatkan proses kognitif.
Bandura menetapkan bahwa ada langkah tertentu yang terlibat dalam proses pemodelan:
1.        Attention (perhatian) , jika kita ingin belajar sesuatu, kita harus memperhatikan. Apapun yang mengurangi perhatian, akan memberikan dampak negatif pada pembelajaran observasional.
2.        Retention (penyimpanan), kemampuan untuk menyimpan informasi juga merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Retensi dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, tetapi kemampuan untuk memperoleh informasi dan kemudian bertidak sangat penting pada pembelajaran observasional.
3.        Reproduction (Reproduksi), mereproduksi gambaran yang bisa berupa tingkah laku nyata, atau pun imajinasi ketika kita melakukan hal yang sedang kita perhatikan.
4.        Motivasi, dengan semua hal di atas, kita tidak akan melakukannya jika tidak memiliki motivasi untuk mengimitasi, yaitu memiliki alasan yang tepat untuk mengimitasi.

Selain itu juga harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.        Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru ke dalam kata-kata, tanda atau gambar daripada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja).
2.        Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilknya.
3.        Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai dan perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat.

 Teori kognitif sosial bandura manyatakan bahwa perilaku, lingkungan dan faktor manusia/kognitif semua penting dalam memahami kepribadian. Bandura menelurkan istilah determinisme resiprocal (reciprocal determinism) untuk menggambarkan cara perilaku, lingkunagn, dan fakotor manusia/lingkunagn berinteraksi untuk menciptakan kepribadian.

 Lingkungan dapat menentukan perilaku seseorang, dan seseorang dapat bertindak untuk mengubah lingkunagan. Hal yang sama juga berlaku, berbagai faktor manusia/ kognitif dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perilaku. Dari sudut pandang Bandura, perilaku merupakan hasil dari berbagai daya, beberapa diantaranya berasal dari situasi dan apa yang dibawa seseorang ke dalam situasi.

C.      Regulasi Diri (Self Regulation)
Regulasi diri merupakan kemampuan untuk mengontrol perilaku sendiri dan salah satu dari sekian penggerak utama kepribadian manusia. Bandura menawarkan tiga tahapan dalam proses regulasi diri, yaitu:
1.        Pengamatan diri, kita melihat diri dan perilaku kita sendiri, serta terus mengawasinya.
2.        Penilaian, membandingkan apa yang kita lihat pada diri dan perilaku kita dengan standar ukuran.
3.        Respons diri, terjadi setelah membandingkan diri dengan standar ukuran tertentu, dan memberikan imbalan respon diri pada diri sendiri.

1.        Faktor-faktor  Eksternal dalam Pengaturaan Diri
Faktor-faktor eksternal mempengaruhi pengaturan diri minimal dalam dua hal.
a.    Faktor eksternal menyediakan standar untuk mengevaluasi perilaku kita sendiri. Faktor lingkungan berinteraksi dengan pengaruh – pengaruh pribadi, membentuk standar evaluasi diri seseorang. Melalui orang tua dan guru anak–anak belajar baik-buruk, tingkah laku yang dikehendaki dan tidak dikehendaki. Melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas anak kemudian mengembangkan standar yang dapat dipakai untuk menilai prestasi diri.
b.    Faktor-faktor eksternal mempengaruhi pengaturan diri dengan menyediakan cara-cara penguatan (reinforcement).  Hadiah intrinsik tidak selalu memberi kepuasan, orang membutuhkan intensif yang berasal dari lingkungan eksternal. Standar tingkah laku dan penguatan biasanya kerja sama; ketika orang dapat mencapai standar tingkah laku tertentu, perlu penguatan agar tingkah laku semacam itu menjadi pilihan untuk dilakukan lagi.

2.        Faktor Internal dalam Regulasi Diri
Faktor internal dalam regulasi diri dengan faktor internal dalam pengaturan diri sendiri. Bandura mengemukakan tiga bentuk pengaruh internal, yaitu:

a.    Observasi diri (slef-obsevation)
Faktor internal pertama pengaturan diri adalah observasi diri (slef-obsevation) terhadap performa yang sudah dilakukan. Manusia sanggup memonitor penampilannya meskipun tidak lengkap atau tidak akurat.
b.    Proses penilaian (judgmental process)
Sebagai proses kedua proses penilaian judgmental process membantu mere-gulasi perilaku melalui proses mediasi kognitif. Kita sanggup bukan hanya sadar-diri secara reflektif, namuun juga menilai berharga tidaknya tindakan-tindakan berdasarkan tujuan yang ditentukan bagi diri sendiri. Lebih detailnya, proses penilaian bergantung pada standar pribadi, performa-performa acuan, niali aktivitas, dan penyempurnaan performa.
c.    Reaksi diri (self reaction)
Faktor internal ketiga dari penagaturan diri adalah reaksi diri (self-reaction). Manusia merespons positif atau negatif perilaku mereka tergantung kepada bagaimana perilaku ini diukur dan apa standar pribadinya. Dengan kata lain, manusia mengarahkan diri kepada insentif bagi tindakannya melalui penguatan diri atau penghukuman diri.

D.      Efikasi Diri (Self-Efficacy)
Self-efficacy adalah kepercayaan dalam diri seseorang tentang kemampuannya untuk mengatur dan memutuskan sumber-sumber tindakan yang diperlukan untuk menghadapi situasi yang akan datang. Dua pengertian penting dalam self-efficacy, yaitu Efiksasi diri atau ekspektasi (self effication – efficacy expectation) adalah “Persepsi diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu”. Efikasi dari berhubungan dengan keyakinan bahwa diri memiliki kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan. Ekspektasi hasil (outcome expectations) adalah perkiraan atau estimasi diri bahwa tingkah laku yang dilakukan diri itu akan mencapai hasil tertentu.
Efikasi adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Efikasi ini berbeda dengan aspirasi (cita-cita), karena cita-cita menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya dapat dicapai. Sedangkan efikasi menggambarkan ekspektasi efikasi yang tinggi, bahwa dirinya mampu melaksanakan operasi tumor sesuai dengan standar profesional. Namun ekspektasi hasilnya bisa rendah, karena hasil operasi itu sangat tergantung pada daya tahan jantung pasien, kemurnian obat antibiotik, sterilitas dan infeksi, dan sebagainya. Orang bisa memiliki ekspektasi hasil yang realistik (apa yang diharapkan sesuai dengan kenyataan hasilnya), atau sebaliknya, ekspektasi hasilnya tidak realistik (mengharap terlalu tinggi dari hasil nyata yang dipakai). Orang yang ekspektasinya tinggi (percaya bahwa dia dapat mengerjakan sesuai dengan tuntutan situasi) dan harapan hasilnya realistik (memperkirakan hasil sesuai dengan kemampuan diri). Orang itu akan bekerja keras dan bertahan mengerjakan tugas sampai selesai.

1.        Sumber Efikasi Diri
Sumber-sumber efikasi dari antara lain:
a.    Pengalaman keberhasilan (mastery experience)
Adalah prestasi yang pernah dicapai pada masa yang telah lalu. Sebagai sumber, performansi masa lalu menjadi pengubah efikasi diri yang paling kuat pengaruhnya. Prestasi (masa lalu) yang bagus meningkatkan ekspektasi efikasi, sedang kegagalan akan menurunkan efikasi. Mencapai keberhasilan akan mem-beri dampak efikasi yang berbeda-beda, tergantung proses pencapaiannya
b.    Pengalaman yang seolah dialami sendiri (vicarious experience)
Diperoleh melalui model social. Efikasi akan meningkat ketika mengamati keberhasilan orang lain, sebaliknya efikasi akan menurun jika mengamati orang yang kemampuannya kira-kira sama dengan dirinya ternyata gagal. Kalau figur yang diamati berbeda dengan diri sipengamat, pengaruh vikarius tidak  besar. Sebaliknya ketika mengamati kegagalan figur yang setara dengan dirinya, bisa jadi orang tidak mau mengerjakan apa yang pernah gagal dikerjakan figur yang diamatinya itu dalam jangka waktu yang lama.
c.    Dorongan sosial (social persuasions)
Self-efficasy dapat juga diraih atau dilemhakan lewat persuasi sosial. Efek-efek dari sumber ini agar terbatas, namun dalam kondisi yang tepat, persuasi orang lain dapat meningkatkan atau menurunkan self-efficacy. Meningkatkan self- efficacy lewat persusai sosial akan efektif hanya jika aktifitas yang diperkuat termaktub dalam daftar perilaku yang diulang-ulang.
d.   Kondisi fisiologis (physiological states)
Sumber terakhir self-efficacy adalah kondisi sisiologis dan emosi. Emosi yang kuat biasanya menurunkan tingkat performa. Ketika mengalami rasa takut yang besar, kecemasan yang kuat dan tingkat stres yang tinggi, manusia memilki ekspektensi self-efficacy yang rendah.

E.       Kelemahan Teori Albert Bandura
Teori belajar sosial Bandura sangat sesuai jika diklasifikasikan dalam teori behavioristik. Ini karena, teknik pemodelan Albert Bandura adalah mengenai peniruan tingkah laku dan adakalanya cara peniruan tersebut memerlukan pengulangan dalam mendalami sesuatu yang ditiru.
Selain itu juga, jika manusia belajar atau membentuk tingkah lakunya dengan hanya melalui peniruan (modeling), sudah pasti terdapat sebagian individu yang menggunakan teknik peniruan ini juga akan meniru tingkah laku yang negatif, termasuk perlakuan yang tidak diterima dalam masyarakat.

F.       Kelebihan Teori Albert Bandura
Teori Albert Bandura lebih lengkap dibandingkan teori belajar sebelumnya, karena itu menekankan bahwa lingkungan dan perilaku seseorang dihubungkan melalui system kognitif orang tersebut. Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata reflex atas stimulus (S-R bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul akibat interaksi antara lingkungan dengan kognitif manusia itu sendiri.
Pendekatan teori belajar social lebih ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasan merespon ) dan imitation ( peniruan ). Selain itu pendekatan belajar social menekankan pentingnya penelitian empiris dalam mempelajari perkembangan anak- anak. Penelitian ini berfokus pada proses yang menjelaskan perkembangan anak-anak, faktor social, dan kognitif.


BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Dari tinjauan teori yang telah dipaparkan di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:
1.        Teori social leraning menjelaskan bahwa sesorang belajar tingkah laku melalui pengamatan model atau disebut dengan observational learning.
2.        Teori sosila albert bandura menekakan adanya hubungan anatra perilaku, lingkunagn, dan fakotor manusia/lingkunagn berinteraksi untuk menciptakan kepribadian.
3.        Langkah-langkah yang terlibat dalam pemodelan adalah adnya attention (perhatian), retention (penyimpanan), reproduction (reproduksi), dan motivasi.
4.        Regulasi diri merupakan kemampuan untuk mengontrol perilaku sendiri dan merupakan salah satu penggerak dalam kepribadian. Dalam proses regulasi diri harus melalui tahap pengamatan, penilaian, dan respon diri. Regulasi diri dapat dipenagrui oleh faktor internal dan faktor eksternal.
5.         Self-efficacy adalah kepercayaan dalam diri seseorang tentang kemampuannya untuk mengatur dan memutuskan sumber-sumber tindakan yang diperlukan untuk menghadapi situasi yang akan datang. Self-efficacy dapat bersumber dari pengalaman keberhasilan, pengalaman yang seolah dialami sendiri, dorongan sosial, dan kondisi fisiologis.


DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian - Edisi Revisi. Malang : UMM Press
Feist, J. & Feist, G.J. 2008. Theories Of Personality. (Terjemahan 6th edisi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar
John W. Santrock. 2002. Life-SPAN Development. (Terjemahan 5th edisi). Jakarta: Erlangga
Pelita Hayati. 2010. Teori Sosial Kognitif dari Albert Bandura «  pelita.anak.amaine.htm. di akses tanggal 22 Oktober 2012