Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain ---- Harta akan habis digunakan tanpa ilmu, tapi sebaliknya ilmu akan berkembang jika digunakan dan dimanfaatkan

Senin, 29 April 2013

Apa itu Global Warming?


Global Warming terdiri atas dua suku kata yang berasal dari bahasa Inggris yaitu Global dan warming. Global diartikan sebagai sesuatu yang terjadi secara menyeluruh, sedangkan Warming merupakan keadaan panas yang disebabkan oleh adanya kerja. Secara umum kebanyakan orang memahami global warming sebagai suatu peristiwa dimana suhu bumi menjadi lebih panas. Pemahaman yang demikian bisa dikatakan benar walaupun belum secara sempurna kebenarannya, karena hakekat dari global warming itu sendiri adalah suatu kejadian dimana naiknya suhu rata-rata permukaan bumi. Global warming dipahami secara rinci dan mendetail sebagai suatu keadaan suhu bumi yang meningkat yang disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi effect rumah kaca yang ada di lapisan atmosfer bumi.[1]. menurut Dr. Rukeishi Ahmad bahwa pemanasan global atau global warming merupakan peristiwa kenaikan suhu diseluruh permukaan bumi yang disebabkan oleh effec rumah kaca.
Effec Rumah kaca yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan Grand House Effect hanyalah merupakan sebuah istilah. Istilah ini menggambarkan keadaan bumi yang terperangkap dalam sebuah ruangan kaca. Ketika keadaan demikian terjadi, maka suhu bumi akan menjadi lebih panas. Sebagai contoh, pada saat kita masuk ke dalam mobil yang dijemur dibawah terik matahari dalam kondisi pintu dan jendelanya tertutup apa yang kita rasakan? Suhu yang ada di dalam mobil tersebut lebih panas dari pada suhu yang ada di luar, itulah gambaran sederhana dari Effec rumah kaca. Meskipun demikian, banyak orang yang salah dalam menafsirkan effec rumah kaca. Mereka beranggapan bahwa suhu bumi menjadi semakin panas disebabkan oleh semakin banyaknya penggunaan kaca dalam desain rumah, hotel, kantor, dan lain sebagainya. Istilah Effec rumah kaca ini diambil dari sebuah keadaan penelitian yang dilakukan oleh seorang ilmuan yang membutuhkan suhu yang hangat. Pada kondisi penelitiannya tersebut ternyata suhu yang ada disekitarnya  dingin sehingga tidak memungkinkan untuk mewujudkan keinginannya. Dengan demikian dia membuat sebuah ruangan yang tertutup oleh kaca yang mampu menyimpan panas dari sinar matahari.
Effec rumah kaca merupakan suatu kejadian yang alamiah. Tanpa adanya Effec rumah kaca maka tidak akan ada kehidupan di muka bumi ini. Peristiwa effek rumah kaca menjadikan suhu bumi tidak terlalu panas pada siang hari dan tidak terlalu dingin dimalam hari. Panas yang dipancarkan oleh sinar matahari ke bumi berupa sinar UV C dipantulkan kembali ke atmosfer. Panas yang dipantulkan tersebut berupa pancaran sinar Infra-merah sebanyak 25% dipantulkan, 25% diserap, 45% diadsorpsi permukaan bumi dan 5% dipantulkan kembali.[2]  
Keadaan tersebut dapat dipahami melalui ilustrasi gambar di bawah ini: [3]

Permasalahan nya adalah jika keadaan gas rumah kaca yang menyebabkan effec rumah kaca tadi semakin meningkat, maka semua energi panas yang dipancarkan oleh matahari tidak dapat dipantulkan keluar atmosfer. Keadaan menjadikan panas berupa sinar infra-merah terperangkap, dengan demikian suhu bumi menjadi panas. Gambar dibawah ini memberikan ilustrasi bagaimana terperangkapnya sinar infra-merah akibat konsentrasi gas rumah kaca yang berlebih:[4]
Meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca yang menyebabkan effek rumah kaca dapat terjadi secara alamiah maupun akibat aktivitas manusia. Meletusnya gunung merapi, kebakaran hutan yang terjadi dengan sendirinya, serta reaksi yang terjadi di rawa-rawa yang menimbulkan gas metana adalah contoh peningkatan gas rumah kaca yang terjadi secara alami. Sedangkan pengasapan nyamuk, gas buangan industri, pembakaran kayu, kegiatan dipembangkit listrik, asap kendaraan transportasi, dan tempat pembuangan sampah merupakan penyebab meningkatnya gas rumah kaca yang disebebkan oleh aktivitas manusia.[5].
            Baik aktivitas manusia maupun kejadian alamiah tersebut menyebabkan peningkatan kadar CO2 sebagai gas rumah kaca semakin meningkat. Selain gas CO2 yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) srta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan kloro floro karbon (CFC).[6]. reaksi pembakaran senyawa Hidro Karbon (mengandung atom C dan H) adalah penyebab utama peningkatan kadar CO2. keadaan ini biasanya dijumpai pada asap kendaraan yang menggunakan bahan organik sebagai bahan bakar. Selain menghasilkan CO2, asap kendaraan maupun pabrik, serta industri yang menggunakan premium, solar, pertamax, juga menghasilkan senyawa gas rumah kaca lain seperti CO, NO2, dan SO2.. sedangkan gas metana (CH4) pada umumnya dihasilkan dari aktivitas peternakan sapi serta penumpukan sampah organik.
                Sebelum berkembangnya industri  tahun 1860, kadar CO2 masih rendah, yaitu 280 ppm. Tahun 1960, kadar CO2 meningkat menjadi 315 ppm. Peningkatan tersebut disebabkan oleh tingginya pemakaian bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Batu bara mengandung atom C yang akan bereaksi dengan O2 jika dibakar akan menghasilkan gas CO2.[7]
Contoh:
CH4(g) + O2(g) ---------  CO2(g) + H2O(g)
C2H4(g) + 3O2(g)  -------  2CO2(g) +2 H2O(g)



[1] Hand Out, Maya Rahmawati, M.Si 2009 (Dosen Kimia Lingkungan Fakultas saintek UIN Sunan Kalijaga).
[2] Dr. Rukeishi Ahmad, M.Si, Kimia Lingkungan. Hal 2
[3]https://www.google.com/search?q=greenhouse+effect
[4]https://www.google.com/search?q=greenhouse+effect
[5] Maryati, Pencemaran Lingkungan 2008. Hal 6-7
[6] Dr. Rukeishi Ahmad, M.Si, Kimia Lingkungan. Hal 3
[7] Maryati, Pencemaran Lingkungan 2008. Hal 8