Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain ---- Harta akan habis digunakan tanpa ilmu, tapi sebaliknya ilmu akan berkembang jika digunakan dan dimanfaatkan

Rabu, 01 Mei 2013

Media Pembelajaran


1.        Pengertian Media Pembelajaran
Secara umum media merupakan kata jamak dari “medium”, yang berarti perantara atau pengantar. Kata media berlaku untuk berbagai kegiatan atau usaha, seperti media dalam penyampaian pesan, media pengantar magnet atau panas dalam bidang magnet. Istilah media digunakan juga dalam bidang pembelajaran atau pendidikan, sehingga istilahnya menjadi media pendidikan, atau media pemebelajaran.[1]
Ada beberapa konsep atau definisi media pendidikan atau media pembelajaran. Media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah, dan sebagainya. Menurut Rossi dan Breidle alat-alat semacam radio dan televisi kalau digunakan dan diprogram untuk pendidikan maka merupakan media pembelajaran.[2]
Namun demikian, media bukan hanya berupa alat atau bahan, akan tetapi hal-hal lain yang memungkinkan peserta didik dapat memperoleh pengetahuan. Menurut Gerlach (2008) secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan, atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap.[3] Jadi, dalam pengertian ini media bukan hanya alat perantara seperti TV, radio, slide, bahan cetakan, tetapi meliputi orang atau manusia sebagai sumber belajar atau juga berupa kegiatan semacam diskusi, seminar, karya wisata, simulasi, dan lain sebagainya yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, mengubah sikap peserta didik, atau menambah keterampilan.

2.        Fungsi dan Manfaat Penggunaan Media pembelajaran
Media pembelajaran memiliki fungsi:
a.         Menangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu.
Peristiwa-peristiwa penting atau objek yang langka dapat diabadikan dengan foto, film atau direkam melalui vidio atau audio, kemudian peristiwa itu dapat disimpan dan dapat digunakan ketika diperlukan.
b.        Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau objek tertentu.
Melalui media pembelajaran, guru dapat menyajikan bahan pelajran yang bersifat abstrak menjadi konkret, sehingga mudah dipahami dan dapat menghilangkan verbalisme. Selain itu, media pembelajran juga dapat membantu menampilkan objek yang terlalu besar yang tidak mungkin dapat ditampilkan di dalam kelas, atau menampilkan objek yang terlalu kecil yang sulit dilihat menggunakan mata telanjang.
Untuk memanipulasi keadaan, juga media pembelajaran dapat menam- pilkan suatu proses atau gerakan yang terlalu cepat yang sulit diikuti seperti gerakan mobil, gerakan kapal terbang gerakan-gerakan pelari yang sedang berolahraga; atau sebaliknya dapat mempercepat gerakan-gerakan yang lambat, seperti gerakan pertumbuhan tanaman, perubahan warna suatu zat, dan lain sebagainya.
c.         Menambah gairah dan motivasi belajar peserta didik.
Penggunaan media pembelajaran dapat menambah motivasi belajar peserta didik sehingga perhatian peserta didik terhadap materi pembelajaran dapat lebih meningkat. Sebagi contoh, sebelum menjelaskan materi pelajaran tentang polusi, untuk dapat menarik perhatian peserta didik terhadap topik tersebut, maka guru memutar film terlebih dahulu tentang banjir atau tentang kotoran limbah industri, dan lain sebagainya.[4]

3.        Prinsip-prinsip dalam Pemilihan Media
Agar media pembelajaran benar-benar digunakan untuk membelajarkan siswa, maka ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan, di antaranya:
a.         Media yang harus digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapai pembelajaran. Media tidak digunakan sebagai alat hiburan, atau tidak semata-mata dimanfaatkan untuk mempermudah guru menyampaikan materi, akan tetapi benar-benar untuk membantu peserta didik belajar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
b.        Media yang digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran. Setiap materi pelajaran memiliki kekhasan dan kekomplekan. Media yang akan digunakan harus sesuai dengan kompleksitas materi pembelajaran. Sebagai  contoh untuk membelajarkan peserta didik memahami pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia, maka guru perlu mempersiapkan semacam grafik yang mencerminkan pertumbuhan itu.
c.         Media pembelajaran harus sesuai denagn minat, kebutuhan,  dan kondisi peserta didik. Peserta didik yanng mempunyai kemampuan mendengar yang kurang baik, akan sulit memahami pelajaran manakala digunakan media yang bersifat auditif. Demikian juga sebaliknya, peserta didik yang memilki kemampuan penglihatan yang kurang, akan sulit menangkap bahan pelajaran yang disajikan melalui audio visual. Setiap peserta didik mempunyai gaya dan kemampuan yang berbeda. Guru perlu memperhatikan setiap kemampuan dan gaya tersebut.
d.        Media yang akan digunakan harus memperhatikan efektivitas dan efisien. Media yang memerlukan peralatan yang mahal belum tentu efektif untuk mencapai tujuan tertentu. Demikian juga media yang sederhana belum tentu tidak memiliki nilai. Setiap media yang dirancang guru perlu memperhatikan efektifitas penggunaannya.
e.         Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoperasikannya. Sering media yang komplek terutama media-media mutakhir seperti media komputer, LCD, dan media elektronik lainnya memerlukan kemampuan khusus dalam mengoperasikannya. Media secanggih apapun tidak akan bisa menolong tanpa kemampuan teknis mengoperasikannya. Oleh karena itu sebaiknya guru memepelajari dahulu bagaimana mengoperasikan dan memanfaatkan media yang akan digunakan. Hal ini perlu ditekankan, sebab sering guru melakukan kesalahan-kesalahan yang prinsip dalam menggunakan media pembelajaran yang pada akhirnya penggunaan media bukan menambah kemudahan peserta didik belajar, malah sebaliknya mempersulit peserta didik belajar.[5]

Pada tingkat yang menyeluruh dan umum pemilihan media dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut.
a.         Hambatan pengembangan dan pembelajaran yang meliputi faktor-faktor dana, fasilitas dan peralatan yang telah tersedia, waktu yang tersedia (waktu mengajar dan pengembangan materi dan media), sumber-sumber yang tersedia (manusia dan material).
b.        Persyaratan isi, tugas, dan jenis pembelajaran. Isi pembelajaran beragam dari sisi tugas yang ingin dilakukan peserta didik, misalnya penghafalan, penerapan keterampilan, pengertian hubungan-hubungan, atau penalaran dan pemikiran tingkatan yang lebih tinggi.
c.         Hambatan dari sisi peserta didik dengan mempertimbangkan kemampuan dan keterampilan awal, seperti membaca, mengetik dan menggunakan komputer, dan karakteristik peserta didik lainnya.
d.        Pertimbangan lainnya adalah tingkat kesenangan (preferensi lembaga, guru, dan peserta didik) dan keefektifan biaya.
e.         Pemilihan media sebaiknya mempertimbangkan pula:
1)        kemampuan mengakomodasi penyajian stimulus yang tepat (visual dan atau audio)
2)        kemampuan mengakomodasi respon sisiwa yang tepat (tertulis, audio, dan kegiatan fisik
3)        kemampuan mengakomodasi umpan balik
4)     pemilihan media utama dan media sekunder untuk penyajian informasi atau stimulus, dan untuk latihan serta tes (sebaiknya latihan dan tes menggunakan media yang sama). Misalnya, untuk tujuan belajar yang melibatkan penghafalan.
f.         Media sekunder harus mendapat perhatian karena pembelajaran yang berhasil menggunakan media yang beragam. Dengan menggunakan media yang beragam, peserta didik mmiliki kesempatan untuk menghubungkan dan berinteraksi dengan media yang paling efektif sesuai dengan kebutuhan belajar mereka secara perorangan.[6]


[1]Wina Sanjaya, Strategi Pembalajaran Beorientasi Standar Proses Pendidikan. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group 2008), hlm. 163.
[2]Ibid., hlm.163.
[3]Ibid., hlm. 164.
[4]Ibid., hlm. 209.
[5] Ibid., hlm. 174.
[6]Azhar Arsyad, Media Pembelajaran. (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm.69.