Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain ---- Harta akan habis digunakan tanpa ilmu, tapi sebaliknya ilmu akan berkembang jika digunakan dan dimanfaatkan

Rabu, 01 Mei 2013

Pendekatan Pembelajaran Kontekstual


Contectual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi  pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata, sehingga mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka[1]. Pembelajaran Contectual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.
Contectual Teaching and Learning (CTL) sebagai suatu pendekatan pembelajaran memilki 7 asas. Asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL. Ketujuh asas tersebut adalah:

1.        Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif peserta didik berdasarkan pengalaman. Pembelajaran melalui CTL pada dasarnya mendorong agar peserta didik bisa mengkonstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman.

2.        Inkuiri
Asas kedua dalam pembelajaran CTL adalah inkuiri, artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah,  yaitu:
a.         merumuskan masalah
b.        mengajukan hipotesis
c.         mengumpulkan data
d.        menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan
e.         membuat kesimpulan

3.        Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertnyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir.
Dalam suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk:
a.         menggali informasi tentang kemampuan peserta didik dalam penguasaan materi pelajaran.
b.        membangkitkan motivasi peserta didik untuk belajar.
c.         merangsang keingintahuan peserta didik terhadap sesuatu.
d.        memfokuskan peserta didik pada sesuatu yang dinginkan.
e.         membimbing peserta didik untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatau.
  
4.        Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajar (learning community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembalajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Kerjasama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah.
Dalam kelas CTL penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya.

5.        Pemodelan (Modelling)
Asas pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagi contoh yang dapat ditiru oleh setiap peserta didik. Modelling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran CTL, sebab melalui modelling peserta didik dapat terhindar dari pembelajaran yang teoretis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme.

6.        Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif peserta didik yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Melalui proses refleksi peserta didik akan memperbarui pengetahuan yang telah dibentuknya, atau menambah khasanah pengetahuannya.

7.        Penilaian yang Sesungguhnya (Authentic Assesment)
Penilaian yang sesungguhnya (authentic assesment) adalah proses yang dilakukan guru utuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan peserta didik. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah peserta didik benar-benar belajar atau tidak; apakah pengalaman belajar peserta didik memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan, baik intelektual maupun mental peserta didik.[2]


[1]Wina Sanjaya, Strategi Pembalajaran Beorientasi Standar Proses Pendidikan. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), hlm. 255.
[2]Ibid., hlm. 255.