Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain ---- Harta akan habis digunakan tanpa ilmu, tapi sebaliknya ilmu akan berkembang jika digunakan dan dimanfaatkan

Selasa, 30 April 2013

Peranan Agama Islam dalam Mengatasi Global Warming

Manusia diciptakan oleh Allah SWT ditengah dan diantara ciptaan-Nya yang lain, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa, baik yang nampak oleh mata maupun yang tidak nampak oleh mata. Untuk mewujudkan hidup dan kehidupannya secara manusiawi, manusia perlu mengenali dan memahami hakekat dirinya. Pengenalan dan pemahaman itu akan mengantarkan pada kesediaan mencari makna arti kehidupan, agar tidak sia-sia dalam menjalani kehidupannya.

1.        Hakekat Manusia Diciptakan
Manusia dipandang sebagai makhluk yang sempurna. Kesempurnaan itu muncul disebabkan manusia memiliki kelebihan berupa akal. Dengan akal manusia bisa berpikir, berkembang, memiliki peradaban, dan jauh lebih baik dari mahkluk yang nampak lainnya.
Dalam pandangan Islam manusia diciptaan Allah SWT sebagai Khalifah (wakil) Allah di muka bumi sekaligus menjadi hambanya. Dengan demikian sewajarnya manusia harus berusaha sebaik mungkin menjadi Khalifah sekaligus hamba Allah. Kenyataan demikian sesuai dengan firman-Nya pada Surat Fathir ayat 39 sebagai berikut:
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَكُمۡ خَلَـٰٓٮِٕفَ فِى ٱلۡأَرۡضِۚ فَمَن كَفَرَ فَعَلَيۡهِ كُفۡرُهُۖ ۥ وَلَا يَزِيدُ ٱلۡكَـٰفِرِينَ كُفۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّہِمۡ إِلَّا مَقۡتً۬اۖ وَلَا يَزِيدُ ٱلۡكَـٰفِرِينَ كُفۡرُهُمۡ إِلَّا خَسَارً۬ا
Artinya: Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka [akibat] kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. (39).
Dengan anugerah akal yang diberikan oleh Tuhan manusia mencapai tingkat perubahan yang begitu cepat. Mereka memiliki hayalan dan impian. Dorongan mewujudkan hayalan dan impian manusia yang tidak pernah puas menyebabkan kinerja otak menjadi lebih baik dari waktu kewaktu. Alasan dasar untuk memenuhi kehidupan dan sebagai hamba berubah total menjadi sesuatu kemewahan dan pemuasan nafsu manusiawi. Proses berpikir yang selalu diasah dan dikembangkan menjadikan mereka menguasai ilmu dan teknologi. Dengan dikuasainya ilmu dan teknologi oleh manusia mereka menjadi menguasai alam. Ilmu dan teknologi mereka gunakan sampai melampaui batas, terjadilah ketidak seimbangan alam yang berdampak buruk bagi kehidupannya.[1]
Hakekat manusia menurut pandangan berbagai macam disiplin ilmu kelihatanya berbeda-beda. Dengan demikian penelitian ilmiah mengenai gejala sosial sulit dilakukan. Manusia merupakan mahluk sosial, mahluk yang ingin berkuasa, mahluk yang mencari materi dan kepuasan seoptimal mungkin, mahluk yang mepunyai rasa ketuhanan, mahluk moralis, mahluk rasional dan sebagainya. Menurut Jujun S. Suriasumantri bahwa setiap disiplin ilmu disusun berdasarkan pandangan tertentu terhadap manusia. Ilmu ekonomi disusun berdasarkan pandangan bahwa manusia adalah mahluk yang mencari keuntungan sebesar-besarnya. Ilmu polotik disusun berdasarkan pandangan bahwa manusia adalah mahluk yang ingin berkuasa. Ajaran Islam juga mempunyai pandangan bahwa manusia adalah hamba dan Khalifah Allah.[2]
Perbedaan pandangan dari berbagai disiplin ilmu terhadap manusia bisa dikatakan benar. Contoh kongkrit yang dapat kita lihat bahwa pada era sekarang manusia cenderung berlomba-lomba dan terlalu berlebihan dalam hal pemenuhan kebutuhan hidupnya. Manusia memiliki kecenderungan mencari kepuasan maksimum tanpa memikirkan dampak buruk dari tindakan tersebut. Boros dan bermewah-mewahan adalah suatu budaya dan kebanggaan, apalagi eksploitasi alam secara besar-besaran tanpa memikirkan kondisi lingkungan menjadi suatu yang tidak asing.
Budaya hidup boros, dan bermewah-mewahan yang nantinya lupa akan akibatnya baik diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan telah diperingatkan oleh Allah SWT dalam Surat Al-Isro’ Ayat 27
إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٲنَ ٱلشَّيَـٰطِينِ‌ۖ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَـٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورً۬ا 
Artinya:
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (27)
Keadaan seperti ini mebawa manusia lepas dari hakekat penciptaannya. Ketika manusia lupa terhadap hakekatnya sebagai mahluk Tuhan, kekacauan, pengrusakan dan lain sebagainya kerap kali dilakukan. Tindakan semacam itu ternyata membawa dampak buruk seperti hal nya global warming. Allah SWT telah mengingatkan dalam Surat Al- Qashas: ayat 77
وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَٮٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأَخِرَةَ‌ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَأَحۡسِن ڪَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَ‌ۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ
Artinya:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu [kebahagiaan] negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari [keni’matan] duniawi dan berbuat baiklah [kepada orang lain] sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di [muka] bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan" (77).
Manusia kadang melupakan dampak samping akibat kerusakannya. Hanya sedikit manusia yang menghargai dan memberi nilai mahluk ciptaan Allah yang lain baik itu manusia maupun mahluk hidup lainnya. Memaksakan kehendak demi kesejahteraan sendiri. Sesungguhnya kecenderungan inilah yang selama ini terjadi di masyarakat sehingga kerusakan alam dan lingkungan terakumulasi dan terimbas kembali kepada masyarakat. Sebagian besar manusia sulit menyadari realitas kehidupan lingkungan hidup yang ada disekitarnya. Ini karena penghancuran-penghancuran lingkungan hidup itu terjadi bersamaan dengan proses-proses yang sedang mereka kerjakan yang sering ”bertujuan” membangun masa depan. Padahal, yang terjadi adalah sebaliknya. Tragedi masa depan itu justru sedang terjadi pada kita dan kita sendiri yang menjalankannya.[3]

2.        Tujuan Manusia Diciptakan
Semua yang Allah ciptakan di jagat raya ini tidak ada yang sia-sia. Bahkan mahluk yang sangat kecilpun yang mungkin tidak kelihatan oleh mata memiliki manfaat entah itu manfaat yang dapat dirasakan oleh manusia ataupun mahluk Tuhan yang lain. Penciptaan hewan melata, tumbuhan, gunung-gunung bahkan batu sekalipun memiliki tujuan. Entah tujuan itu dapat dinalar ileh manusia maupun yang tak mampu dinalar oleh akal manusia, tetapi kita yakin bahwa Allah menciptakannya dengan tujuan tertentu.
Sama halnya dengan tujuan penciptaan manusia. Dalam ajaran Islam, manusia diciptakan dengan tujuan untuk menyembah kepada Tuhannya (Allah). Hal tersebut telah Allah tegaskan dalam Surat Adz-Zariyat ayat 56:
 وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
Artinya: Dan aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada –Ku.
Alam semesta sebagai eksistensi Tuhan hanya bisa dipahami oleh manusia dengan kemampuan spiritualnya. Kemampuan ini dapat memahami tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang tersembunyi dalam semua wujud keseluruhan, pada langit, bumi, air, dan udara, sebagai manifestasi ilahi. Pandangan manifestasi ini memiliki dimensi etis. Pertama, jika alam merupakan cermin dari kebesaran ilahi maka sudah seharusnya manusia berdamai dengan alam dan memperlakukannya sebaik mungkin. Kedua, dengan kemampuan intelek dan spiritualnya manusia bisa mengenal Tuhan melaluitanda-tanda yang ditampakannya sehingga manusia tetap menjadi mahluk seuai hakekat penciptaannya.

3.       Kembali Pada Allah
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِى عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”[4]

Aktivitas manusia yang terlalu berlebihan dalam hal mengekploitasi alam dan gaya hidup mewah dan boros membawa dampak yang buruk. Jika tindakan semacam ini masih terus membudaya dan tanpa ada kesadaran, maka global warming yang akan memusnahkan seisi bumi ini benar-benar tejadi. Manusia perlu merenungi kembali tindakan-tindakan buruk yang melampaui batas, demi mendapatkan kepuasan yang optimal, bahkan hal itu membuat manusia melupakan hakekatnya sebagai manusia ciptaan Tuhan.
Pengrusakan lingkungan seperti ilegal loging, sikap hidup boros, pencemaran lingkungan oleh limbah pabrik, industri, memberi peluang besar terhadap terjadinya global warming. Disadari atau tidak, posisi manusia sedang dalam ancaman global warming. Tak akan ada yang dapat bertahan jika memang keadaan demikian terjadi, sebab global warming bukan saja mengganggu sistem perekonomian, lebih jauh lagi akan menghancurkan sistem ekologi. Padahal Rasulullah bersabda ”barangsiapa yang menebang pepohonan (tanpa alasan yang benar), maka Allah akan mencelupkan kepalanya ke dalam Neraka”[5]
Perihal menjaga lingkungan Rasulullah juga bersabda ”tidaklah seorang muslim menanam tanaman, kemudian (buah atau biji) tanaman tersebutdimakan oleh burung, manusia, ataupun binatang ternak, melainkan hal tersebut termasuk sedekah darinya[6]
Global warming merupakan sebuah isu yang berdampak baik jika disikapi dengan sikap yang positif. Sikap yang positif dapat dicerminkan terhadp kesadaran manusia terutama umat Islam, bahwasanya mereka sedang ditegur oleh Allah. Kerusakan yang mereka buat telah melampaui batas, hanya teguran Allah (global warming) yang dapat mengembalikan mereka ke jalan yang diridhoi Tuhan (hakekat manusia).


[1] Dra. Siti Zawimah. Masalah Kependudukan dan Lingkungan Hidup. 1990. hal xiv
[2] Bustanuddin Agus, pengembangan ilmu-ilmu sosial 1999. hal 87
[3] Isac Asimov dan Frederik Pohl dalam bukunya Our Angry Earth (dikutip dari sinopsis buku global warming karangan Abu Fatiah Al-Adnani)
[4] QS. Ar-Ruum (30):41
[5] HR Abu Daud no 4561
[6] HR. Bukhari no. 2152 dan Muslim no.2904