Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain ---- Harta akan habis digunakan tanpa ilmu, tapi sebaliknya ilmu akan berkembang jika digunakan dan dimanfaatkan

Kamis, 02 Mei 2013

Teori Classiccal Conditioning (Ivan P. Pavlov)


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Teori belajar merupakan landasan terjadinya suatu proses belajar yang menuntun terbentuknya kondisi untukbelajar. Teori belajar dapat didefenisikan sebagai integrasi prinsip-prinsip yang menuntun di dalam merancangkondisi demi tercapainya tujuan pendidikan. Dengan adanya teori belajar akan memberikan kemudahan bagiguru dalam menjalankan model-model pembelajaran yang akan dilaksanakan. Banyak telah ditemukan teoribelajar yang pada dasarnya menitikberatkan ketercapaian perubahan tingkah laku setelah prosespembelajaran.
Teori belajar merupakan suatu ilmu pengetahuan tentang pengkondisian situasi belajar dalam usahapencapaian perubahan tingkah laku yang diharapkan. Teori belajar yang berpengaruh terhadap pelaksanaanpembelajaran adalah teori belajar behavioristik. Teori belajar menurut aliran aliran behavioristk merupakan prosess perubahan tingkahlaku sebagai akiabat adanya interaksi anatar stimulus dan respon. Adapaun akibat adanya interaksi anatara stimulus dengan resppon, siswa mempunya pengalaman baru, yang meyebabkan mereka mengadakan tingkah laku dengan cara yang baru.
Teori behaviorisme juga mengatakan bahwa peniruan sangat penting dalam mempelajari bahasa. Teori ini juga mengatakan bahwa mempelajari bahasa berhubungan dengan pembentukan hubungan antara kegiatan stimulus-respon dengan proses penguatannya. Proses penguatan ini diperkuat oleh suatu situasi yang dikondisikan, yang dilakukan secara berulang-ulang. Sementara itu, karena rangsangan dari dalam dan luar mempengaruhi proses pembelajaran, anak-anak akan merespon dengan mengatakan sesuatu. Ketika responnya benar, maka anak tersebut akan mendapat penguatan dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Saat proses ini terjadi berulang-ulang, lama kelamaan anak akan menguasai percakapan
Salah satu tokoh yang terkenal dengan aliran behavioristik adalah Ivan P. Pavlov dengan teori classiccal conditioning. Oleh karena itu penulis di sisni akan kembali meguraikan teri Ivan P. Pavlov tentang Classiccal Conditioning.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat diambil adalah:
1.        Apa yang dimaksud dengan teori Classiccal Conditioning yang dikemukakan oleh Ivan P. Pavlov?
2.        Apa sajakah komponen-komponen teori Classiccal Conditioning yang dikemukakan oleh Ivan P. Pavlov?
3.        Apa sajakah prinsip-prinsip dalam teroi Classiccal Conditioning yang dikemukakan oleh Ivan P. Pavlov?
4.        Bagaimana aplikasi Classiccal Conditioning yang dikemukakan oleh Ivan P. Pavlov dalam pembelajran?
5.        Bagaimana kelbihan dana kekurangan Classiccal Conditioning yang dikemukakan oleh Ivan P. Pavlov

C.      Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan dari penulisan makalh ini, adalah sebagai berikut:
1.        Mendiskripsikan terori Classiccal Conditioning yang dikemukakan oleh Ivan P. Pavlov
2.        Menjelaskan komponen-komponen dalam teori Classiccal Conditioning yang dikemukakan oleh Ivan P. Pavlov
3.        Menjelaskan prinsip-prinsip Classiccal Conditioning yang dikemukakan oleh Ivan P. Pavlov
4.        Menjelasakan aplikasi teori Classiccal Conditioning yang dikemukakan oleh Ivan P. Pavlov dalam pembelajaran
5.        Menjelaskan kelebihan dan kekurangan Classiccal Conditioning yang dikemukakan oleh Ivan P. Pavlov

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Biografi Ivan P. Pavlov
Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta. Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi. Pavlov lulus sebagai sarjana kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Pada tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada Institute of Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan. Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikologi behavioristik di Amerika. Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902) dan Conditioned Reflexes(1927). Ia meninggal di Leningrad pada tanggal 27 Februari 1936. Sebenarnya ia bukan seorang sarjana psikologi dan ia pun tidak mau disebut sebagai ahli psikologi, karena ia adalah seorang sarjana ilmu faal yang fanatik.
Cara berpikirnya adalah sepenuhnya cara berpikir ahli ilmu faal, bahkan ia sangat anti terhadap psikologi karena dianggapnya kurang ilmiah. Dalam penelitian-penelitiannya ia selalu berusaha menghindari konsep-konsep meupun istilah-istilah psikologi. Sekalipun demikian, peranan Pavlov dalam psikologi sangat penting, karena studinya mengenai refleks refleks akan merupakan dasar bagi perkembangan aliran psikologi behaviorisme.
Pandangannya yang paling penting adalah bahwa aktivitas psikis sebenarnya tidak lain daripada rangkaian-rangkaian refleks belaka. Karena itu, untuk mempelajari aktivitas psikis (psikologi) kita cukup mempelajari refleks-refleks saja. Pandangan yang sebenarnya bermula dari seorang tokoh Rusia lain bernama I.M. Sechenov. I.M. yang banyak mempengaruhi Pavlov ini, kemudian dijadikan dasar pandangan pula oleh J.B. Watson di Amerika Serikat dalam aliran Behaviorismenya setelah mendapat perubahan-perubahan seperlunya (Sarwono, 2008).
Penemuan Pavlov yang sangat menentukan dalam sejarah psikologi adalah hasil penyelidikannya tentang refleks berkondisi (conditioned reflects). Dengan penemu-annya ini Pavlov meletakkan dasar-dasar Behaviorisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian-penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar. Bahkan Amerika Psychological Association (A.P.A.) mengakui bahwa Pavlov adalah orang yang terbesar pengaruhnya dalam psikologi modern di samping Freud.

B.       Tinjauan Teori
1.        Definisi Teori Clasiccal Conditioning
Clasic conditioning (pengkondisian atau persyaratan kelasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaanya terhadap anjing, di mana perangsang asli dan netral dipasang dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang, sehingga memunculkan reaksi yang dinginkan (Sugihartono. dkk, 2007).
Kata clasical yang mengawali nama teori ini semata-mata dipakai untuk menghargai karya Pavlov yang dianggap paling dahulu dibidang conditioning (upaya pengkondisian) dan untuk membedakannya dari teori conditioning lainnya (Henry Gleitmen, 1986). Secara sederhana pengkondisian klasik merujuk pada sejumlah prosedur pelatihan dimana satu stimulus/ rangsangan muncul untuk menggantikan stimulus lainnya dalam mengembangkan suatu respon, bahwa prosedur ini disebut klasik karena prioritas historisnya seperti dikembangkan oleh Pavlov (Rita L. Atkinson, et.al, 1983:299).

(Gambar percobaan Classical Conditioning Pavlov terhadap anjing)

Berikut adalah tahap-tahap eksperimen dan penjelasan dari gambar di atas:
Gambar pertama. Dimana anjing, bila diberikan sebuah makanan (UCS) maka secara otonom anjing akan mengeluarkan air liur (UCR).
Gambar kedua. Jika anjing dibunyikan sebuah bel (misalnya dentingan garpu) maka ia tidak merespon atau mengeluarkan air liur.
Gambar ketiga. Dalam eksperimen ini anjing diberikan sebuah makanan (UCS) setelah diberikan bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjing akan mengeluarkan air liur (UCR) akibat pemberian makanan.
Gambar keempat. Setelah perlakukan ini dilakukan secara berulang-ulang, maka ketika anjing mendengar bunyi bel (CS) tanpa diberikan makanan, secara otonom anjing akan memberikan respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR).

1.        Komponen Dasar Teori Clasiccal Conditioning
Ada empat komponen dasar yang membangun Teori Kondisioning Pavlov. Keempatnya adalah unconditioned stimulus (UCS),  unconditioned response (UCR), conditioned stimulus (CS), dan conditioned response (CR). Pavlov sendiri sesungguhnya menggunakan kata unconditioned reflex dan conditioned reflex, sebagaimana diindikasikan dalam dua bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Conditioned Reflex (1927) dan Lectures on Conditioned Reflex (1928). Kata response lebih disukai oleh ahli psikologi Amerika (Bower, 5th ed., 1981: 50).
Masing-masing komponen di atas bisa diidentifikasi dari percobaan Pavlov terhadap anjing. Awalnya pavlov meletakkan daging dihadapan anjing. Seketika anjing mengeluarkan air liurnya. Dalam konteks komponen kondisioning, daging tadi adalah unconditioned stimulus (UCS) dan keluarnya air liur karena daging itu adalah unconditioned response (UCR). Selanjutnya, Pavlov menghadirkan stimulus baru berupa bel garpu beberapa saat sebelum ia memperlihatkan daging pada anjing. Hal ini dilakukan berulang-ulang, hingga pada akhirnya, hanya dengan menyalakan lampu tanpa diikuti dengan memperlihatkan daging, anjing itu mengeluarkan air liurnya. Bunyi bel sebelum dipasangkan dengan daging disebut neutral stimulus, tapi setelah berpasangan dengan daging disebut conditioned stimulus. Sedangkan keluarnya air liur oleh CS disebut conditioned response. Proses untuk membuat anjing memperoleh CS disebut conditioning.
Proses penggabungan yang dilakukan oleh Pavlov dengan ketiga unsur tersebut adalah melibatkan daging (sebagai unconditioned stimulus), air liur (sebagai unconditioned response pada anjing), dan suara (sebagai conditioned stimulus). Secara normal, suara bel tidak akan menghasilkan air liur. Namun ketika suara dipasangkan dengan daging, suara tersebut dapat mempengaruhi anjing  mengeluarkan air liur. Perilaku konstan secara beberapa lama waktu, maka ketika suara dibunyikan walaupun tanpa kehadiran seketika daging, akan dapat membuat anjing mengeluarkan air liur pada anjing pada beberapa waktu.
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
a.         Law of Respondent Conditioning yaitu hukum  pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara bersamaan/stimultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
b.        Law of Respondent Extinction yaitu hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent Conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer/penguat, maka kekuatannya akan menurun.

2.        Prinsip-Prinsip dalam Eksperimen Ivan Pavlov
Ada 4 prinsip utama dalam eksperimen Ivan Pavlov, antara lain:
a.        Fase Akuisisi
Fase akuisisi  merupakan  fase belajar  permulaan dari  respons  kondisi Sebagai contoh,   anjing   ‘belajar’  mengeluarkan  air   liur   karena   pengkondisian   suara   lonceng. Beberapa faktor dapat mempengaruhi kecepatan conditioning selama fase akuisisi. Faktor yang paling penting adalah urutan dan waktu stimulus. Conditioning  terjadi paling cepat ketika stimulus kondisi (suara lonceng) mendahului  stimulus utama (makanan)  dengan selang waktu setengah detik.   Conditioning memerlukan waktu  lebih  lama dan respons yang terjadi lebih lemah bila dilakukan penundaan yang lama antara pemberian stimulus kondisi dengan stimulus utama. Jika stimulus kondisi mengikuti stimulus utama, sebagai contoh, jika anjing menerima makanan sebelum lonceng berbunyi maka conditioning jarang terjadi.

b.        Fase Eliminasi (Extinction)
Dalam ekperimen ini bagaimana cara untuk membentuk perilaku anjing agar ketika bunyi bel di berikan ia akan merespon dengan mengeluarkan air liur walapun tanpa diberikan makanan. Karena pada awalnya, anjing tidak merespon apapun ketika mendengar bunyi bel. Jika anjing secara terus menerus diberikan stimulus berupa bunyi bel dan kemudian mengeluarkan air liur tanpa diberikan sebuah hadiah berupa makanan. Maka kemampuan stimulus terkondisi (bunyi bel) untuk menimbulkan respons (air liur) akan hilang. Hal ini disebut dengan extinction  atau penghapusan.
c.         Fase Generalisasi
Setelah seekor hewan  telah ‘belajar’ respons kondisi dengan satu stimulus,  ada kemungkinan juga ia merespons stimulus yang sama tanpa latihan lanjutan. Jika seorang anak digigit  oleh seekor anjing hitam besar,  anak  tersebut  bukan hanya   takut  kepada anjing tersebut, namun juga takut kepada anjing yang lebih besar. Fenomena ini disebut generalisasi. Stimuli yang kurang intens biasanya menyebabkan generalisasi yang kurang intens. Sebagai contoh, anak tersebut ketakutannya menjadi berkurang terhdapa anjing yang lebih kecil.
d.        Fase Diskriminasi
Kebalikan   dari  generalisasi   adalah   diskriminasi. Kalau generalisasi merujuk pada tendensi untuk merespons sejumlah stimuli yang terkait dengan respons yang dipakai selama training. Diskriminasi mengacu pada tendensi untuk merespons sederetan stimuli yang amat terbatas atau hanya pada stimuli yang digunakan selama training saja. Ketika seorang individu  belajar menghasilkan respons kondisi pada satu stimulus dan tidak dari stimulus yang sama namun kondisinya berbeda. Sebagai contoh, seorang anak memperlihatkan respons takut pada anjing galak yang bebas,  namun mungkin memperlihatkan  rasa  tidak  takut ketika seekor anjing galak diikat atau terkurung dalam kandang.

C.      Aplikasi Teori Pavlov dalam Pembelajaran
Aplikasi teori Pavlov terhadap pembelajaran siswa adalah: mementingkan pengaruh lingkungan, mementingkan bagian-bagian, mementingkan bagian reaksi, mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon, mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya, mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latiahan dan pengulangan, hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan pradigma Pavlov akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupaun melalui simulasi. Bahan pelajaran disuusn secara hierarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.
Metode pavlov ini sangat cocok untuk memperoleh kamampuan yang membu-tuhkan paktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur sperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagianya. Contohnya: perckapan bahasa aisng, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraaga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
Penerapan terori Pavlov yang salah dalam situasi pembelajaran juga mengaki-btakan terjadinya proses pembelajran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarakn dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajara yang efektif.

D.       Kelebihan dan Kekurangan Teori Pavlov
Pada teori Pavlov, individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luas dirinya, hal ini sangat membantu dan memudahkan pendidik dalam dunia pendidikaan untuk melakukan pembelajran terhadap peserta didiknya. Hal ini merupakan kelebiahan dari teori Pavlov.
Sedangkan kekurangan teori ini adalah, jika kondsisi ini dialkakukan secara terus menerus, maka ditakutkan murid akan mamilki rasa ketergantungan atas stimulus yang berasal dari luar dirinya. Padahal seharusnya siswa didik atau anak harus memilki stimulusdari dalam dirinya sendiri (self motivation) dalam melakukan kegiatan belajar dan pemahaman yang diberikan oleh guru.

BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Dari pembahsan yang telah dipaparkan, maka dapat diambil kesimpuan sebagai berikut:
1.        Clasic conditioning (pengkondisian atau persyaratan kelasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaanya terhadap anjing, di mana perangsang asli dan netral dipasang dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang, sehingga memunculkan reaksi yang dinginkan.
2.        Ada empat komponen dasar yang membangun Teori Kondisioning Pavlov. Keempatnya adalah unconditioned stimulus (UCS),  unconditioned response (UCR), conditioned stimulus (CS), dan conditioned response (CR)
3.        Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar yaitu hukum  pembiasaan yang dituntut (Law of Respondent Conditioning) dan hukum pemusnahan yang dituntut (Law of Respondent Extinction).
4.        Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.

DAFTAR PUSTAKA

James F. Brennan. 2006. Sejarah dan Sistem Psikologi. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada
Nana Sudjana. 1990. Teori-teori Belajar Untuk Pengajaran. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Rita L. Atkinson, et.al,.1983. Intrudoction To Psycology, Eight Edition. Terjemah, Nurjannah Taufiq, Rukmini Barhana, Editor Agus Gharma, Michael Adryanto, Jakarta: Erlangga.
Sarlito W. Sarwono. (2008). Berkenalan Dengan Aliran-Aliran Dan Tokoh-Tokoh    Psikologi Cetakan ke-3. Jakarta: Bulan Bintang.
Sugihartono. dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press
http://elmisbah.wordpress.com/teori-pavlov/. diakses tanggal 1 Januari 2013 pukul 12.30