Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain ---- Harta akan habis digunakan tanpa ilmu, tapi sebaliknya ilmu akan berkembang jika digunakan dan dimanfaatkan

Selasa, 30 April 2013

Upaya Penanggulangan Global Warming


Nampaknya Global Warming merupakan momok yang sangat menakutkan bagi setiap orang. Mendengar kata global warming saja rasanya kita akan membayangkan sesuatu yang sangat mengerikan yang bakal menimpa kehidupan ekosistem di bumi. Karena hal demikian, beberapa tahun terakhir isu global warming telah menjadi wacana yang cukup luas di masyarakat, khususnya kalangan terpelajar, akademisi, dan masyarakat perkotaan. Isu global warming terus mewarnai berita yang tersiar di koran, majalah, tabloid, TV, bahkan tidak sedikit film-film yang mewacanakan isu pemanasan global yang menjadi pemicu kehancuran dunia. Diantara film-film itu antara lain seperti film The Day After Tomorrow dan film yang fenomenal yaitu HOME. kedua film tersebut sangat jelas menggambarkan bagaimana kengerian dari suatu kehancuran yang disebabkan oleh pemanasan global. Dalam film The Day After Tomorrow menggambarkan terendamnya sebuah kota besar akibat naiknya permukaan laut. Ombak yang begitu besar datang secara tiba-tiba dan meluluhlantahkan semua yang ada. Film HOME yang durasi nya sekitar 50 menit, lebih mendetail dalam hal menggambarkan kerusakan lingkungan akibat manusia. Waktu yang dibutuhkan oleh bumi sehingga terbentuk kehidupan menury film tersebut sekitar 400 Milyar tahun. Pada kenyataannya, manusia yang diperkirakan baru ada sekitar 200.000 tahun sudah mengubah segala-galanya, membuat alam menjadi tidak seimbang. Lebih parah lagi es di Antartika menyusut 40% dalam 40 tahun terakhir. Jika es di antartika mencair, maka kota besar disekitar pesisir pantai seperti Tokyo terancam hilang. Selain itu, isu mengenai global warming kerap kali menjadi bahan diskusi kaum akademisi. Mereka membicaran dan menawarkan solusi dalam hal penanganan pemanasan global.
Perihal solusi dalam penanggulangan global warming, jauh sebelum itu negara-negara yang ada di dunia membuat perjanjian atau kesepakatan perihal penurunan kadar emisi gas rumah kaca. Kesepakatan antara negara-negara tersebut dikenal dengan Protokol kyoto. Dinamakan Protokol Kyoto karena kesepakatan ini dinegosiasi di Kyoto pada desember 1997, dibuka untuk penanda tanganan pada 16 maret 1998 dan ditutup pada 15 maret 1999. persetujuan ini mulai berlaku pada 16 februaru 2005 setelah rativikasi resmi yang dilakukan oleh Rusia pada 18 November 2004.[1]
Protokol kyoto adalah sebuah amandemen terhadap konvensi rangka kerja PBB tentang perubahan iklim, pada februari 2005 telah diratifikasi oleh 141 Negara yang mewakili 61% dari seluruh emisi. Protokol Kyoto merupakan sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol kyoto ini berkomitmen mengurangi emisi CO2 dan lima gas rumah kaca lain (CH4, NO, sulfur heksaflorida, HFC, dan PFC).
            Protokol Kyoto merupakan suatu hal yang sangat menentukan keadaan dunia sampai 50 tahun mendatang. Dengan adanya perjanjian ini tingkat emisi gas rumah kaca akan berkurang. Namun tidaklah mudah melakukan retifikasi bagi negara-negara maju. Negara-negara maju sebagian besar sumber mata pencahariannya adalah pelaku dunia industri. Jika mereka mengurangi tingkat emisi, artinya mereka akan mengurangi produktivitas mereka sendiri. Keadaan yang demikian dilakukan oleh negara maju yang tergolong Annex I seperti australia, Monako amerika Serikat, Kroasia, Kazakastan, dan Zambia.
            Ketidak sepakatan negara maju seperti AS dalam hal meretifikasi kesepakatan Protokol Kyoto terlihat pada argumen yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat pada masa pemerintahan Bush. Bush mengatakan ”Amerika Serikat melihat hal itu sebagai tantangan serius dan kami secara efektif menentang perubahan iklim lewat regulasi, kerjasama publik-swastainsentif dan investasi kuat dalam teknologi baru”. Lebih jauh lagi Bush mengatakan ”sudah waktunya dunia memproduksi lebih sedikit emisi gas-gas rumah kaca. Dan hal itu kita lakukan dengan cara yang tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi atau mencegah negara dari upaya kemakmuran rakyatnya”.[2]
Untuk memperkuat argument tersebut Bush mengemukakan ide yang dikenal dengan Carbon Sink.[3] Carbon Sink ini merupakan suatu Istilah dimana adanya suatu proseskredit karbon. Kredit karbon ini merupakan konsekuensi dari AS yang tak mau meretifikasi Protokol Kyoto. Program Carbon Sink menyatakan pemerintah AS akan menanam pohon sebanyak-banyaknya yang dapat menyerap kembali emisi CO2, dengan demikian AS telah bertanggung jawab atas tindakannya tersebut.
Pertanyaannya adalah apakah benar pohon akan mampu menyerap semua CO2 yang diemisikan? Pohon memiliki kejenuhan dalam hal mengubah CO2 menjadi O2 dan energi, kenyataan demikian dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Peter Cox dari penelitian cuaca Inggris yang disajikan IPCC. ”hutan proyek Carbon Sink dalam waktu dekat akan mengalami kejenuhan, akibatnya hampir semua CO2 dikembalikan pada alam”[4].
            Menanggapi sikap arogan AS yang tidak mau menandatangani Protokol Kyoto menuai berbagai kecaman dan reaksi keras. Salah satunya adalah reaksi yang diberikan oleh LSM Indonesia pada tanggal 11 April 2001. mereka mengatakan kecewa terhadap sikap AS yang menentang Protokol Kyoto. Sikap tersebut menurut penilaian mereka akan melawan standar perilaku diplomasi internasional yang dapat diterima.[5]Bahkan yang lebih menyakitkan bagaimana AS  dalam KTT PBB untuk Perubahan Iklim di Kopenhagen,Denmark  hanya bersedia mengurangi 3% emisinya[6]
            Upaya penanggulangan terhadap dampak global warming tidak terbatas pada Protokol Kyoto. Berbagai himbaun yang beredar lewat media koran, tabloid, majalah, maupun TV mengalir tak terbendung. Himbauan dan ajakan tersebut berkutat seputar ajakan menghemat pemakaian listrik, pengunaan AC, daur ulang sampah anorganik, mengubur sampah organik, tidak menggunakan bahan parfum yang mengandung arosol, hemat BBM, dan lain-lain. Ajakan untuk menghemat listrik dan mendaur ulang sampah merupakan upaya seseorang atau sekelompok orang dalam hal berpartisipasi dalam mengurangi emisi karbon. Keadaan tersebut ditunjukan pada koran kompas, 7 desember 2009 pada halaman pertama.
            CO2 merupakan gas rumah kaca yang memiliki konsentrasi yang tinggi dan waktu tinggal yang relatif lama dibanding gas rumah kaca lainya. Akan tetapi effek yang ditimbulkan oleh gas rumah kaca lain jau lebih besar dari pada effec yang ditimbulkan oleh CO2. salah satu gas yang memiliki effec yang lebih besar dari CO2 adalah CH4 (metana). Kita tahu bahwa metana mempunyai potensi terbesar kedua penyebab effec rumah kaca dibanding CO2 karena peternakan sapi di dunia jumlahnya cukup banyak. Peternakan sapi akan mengemisikan metana baik dari pernapasan, maupun kotoranya. oleh sebab itu, banyak juga yang menyarankan agar beralih dan mencari alternatif lain dalam hal konsumsi.
Pengarang dari Lembaga World Watch yang melaporkan bahwa sedikitnya 51% dari emisi seluruh dunia berasal dari industri ternak ini diundang untuk berbicara pada pengarahan kebijakan tentang perubahan iklim untuk Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Organisasi itu bekerja untuk mendapatkan dukungan bagi solusi gabungan atas pemanasan global dan keamanan pangan yang meminta perhatian terhadap peternakan untuk mengurangi dampak perubahan iklim.Dalam pidatonya, Dr. Goodland membuat beberapa rekomendasi termasuk promosi atas pola makan nabati dan agar emisi dari hewan ternak harus dipertimbangkan dalam kebijakan apapun dalam menguragi pemanasan global. Dr. Goodland, terima kasih tulus kami yang telah membagikan keahlian Anda. Semoga Perserikatan Bangsa Bangsa, pemerintah, dan organisasi di seluruh dunia segera menjalankan praktik yang sangat bijaksana dan efektif seperti gaya hidup vegan organik untuk hentikan perubahan iklim. Solusi terhadap krisis global kita ini telah digaungkan berulang kali oleh Maha Guru Ching Hai, yang sekali lagi berseru kepada semua pemimpin untuk memprakarsai tindakan menuju dunia nabati dalam konferensi video bulan September 2009 di Pulau Jeju, Korea Selatan.[7]
Produksi daging menghabiskan lebih dari 74% dari seluruh kedelai dan 36% dari semua biji-bijian. 1,02 miliar orang menderita kelaparan yang berkepanjangan di tahun 2009, namun kita mampu memberi makan 2 miliar orang dengan kedelai dan biji-bijian yang dijadikan pakan ternak. Produksi daging juga banyak berperan terhadap kekurangan air. Kita menghabiskan 1.200 galon air untuk menghasilkan satu porsi daging panggang, 330 galon untuk menghasilkan satu porsi ayam; tapi hanya memerlukan 98 galon untuk menghasilkan satu porsi makanan vegan yang berisi tahu, nasi, dan sayuran. Diperkirakan bahwa produksi daging memerlukan 70% dari penggunaan air.[8]
Untuk memproduksi 1 kilogram daging sapi kita telah menghasilkan emisi gas rumah kaca dengan potensi pemanasan yang setara dengan 36,4 kilogram karbon dioksida.
1.        Untuk menghasilkan 1 kilogram daging sapi juga memerlukan pupuk buat tanaman sebagai makanan sapi itu yang jumlahnya setara dengan 340 gram sulfur dioksida dan 59 gram fosfat, serta menghabiskan 169 megajoule energi.
2.        Satu kilogram daging sapi bertanggung jawab terhadap emisi CO2 yang jumlahnya setara dengan rata-rata mobil orang Eropa yang menempuh jarak sekitar 250 kilometer, dan membakar cukup energi untuk menyalakan lampu 100 watt selama hampir 20 hari.[9]


[1] Abu fatiah Al-Adnani, Global Warming, 2008 hal 65
[2] Abu fatiah Al-Adnani, Global Warming, 2008 hal 79
[3] Ibid, hal 93
[4] Ibid, hal 95
[5] Ibid. hal 107
[6] Harian Kompas Edisi Senin 21 Desember 2009
[8]http://www.suprememastertv.com/ina
 [9] Jurnal Pengetahuan Satwa, 18 Juli 2007